Selasa, 26 Mei 2015

Analisis Implementasi Pembelajaran PJOK dalam Memurnikan Olahraga

BAB I 
PEMBAHASAN

A.       PENDIDIKAN JASMANI DAN KESEHATAN
    Pendidikan jasmani merupakan suatu proses seseorang sebagai individu maupun anggota masyarakat yang dilakukan secara sadar dan sistematik melalui berbagai kegiatan dalam rangka memperoleh kemampuan dan keterampilan jasmani, pertumbuhan, kecerdasan, dan pembentukanwatak
       Pendidikan jasmani pada hakikatnya adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik untuk menghasilkan perubahan holistik dalam kualitas individu, baik dalam hal fisik, mental, serta emosional.
      Pendidikan jasmani dan olahraga adalah laboratorium bagi pengalaman manusia, karena dalam pendidikan jasmani menyediakan kesempatan untuk memperlihatkan mengembangan karakter. Pengajaran etika dalam pendidikan jasmani biasanya dengan contoh atau perilaku. Pengajar tidak baik berkata kepada muridnya untuk memperlakukan orang lain secara adil kalau dia tidak memperlakukan muridnya secara adil.
      Pantas rasanya jika kita setuju untuk mengemukakan bahwa pendidikan jasmani dan olahraga merupakan dasar atau alat pendidikan dalam membentuk manusia seutuhnya, dalam pengembangan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor yang behavior dalam membentuk kemampuan manusia yang berwatak dan bermoral. 
       Pendidikan jasmani adalah suatu proses pendidikan seseorang sebagai perorangan atau anggota masyarakat yang dilakukan secara sadar dan sistematik melalui berbagai kegiatan jasmani untuk memperoleh pertumbuhan jasmani, kesehatan dan kesegaran jasmani, kemampuan dan keterampilan, kecerdasan dan perkembangan watak serta kepribadian yang harmonis dalam rangka pembentukan manusia Indonesia berkualitas berdasarkan Pancasila. Secara eksplisit istilah pendidikan jasmani dibedakan dengan olahraga. Dalam arti sempit olahraga diidentikkan sebagai gerak badan. Olahraga ditilik dari asal katanya dari bahasa jawa olah yang berarti melatih diri dan rogo (raga) berarti badan. Secara luas olahraga dapat diartikan sebagai segala kegiatan atau usaha untuk mendorong, membangkitkan, mengembangkan dan membina kekuatan-kekuatan jasmaniah maupun rokhaniah pada setiap manusia.
       Olahraga adalah proses sistematik yang berupa segala kegiatan atau usaha yang dapat mendorong mengembangkan, dan membina potensi-potensi jasmaniah dan rohaniah seseorang sebagai perorangan atau anggota masyarakat dalam bentuk permainan, perlombaan/ pertandingan, dan kegiatan jasmani yang intensif untuk memperoleh rekreasi, kemenangan, dan prestasi puncak dalam rangka pembentukan manusia Indonesia seutuhnya yang berkualitas berdasarkan
Pancasila.

B.      PEMBELAJARAN  PENJAS
      Pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan (PJOK) bukan melalui pengajaran didalam kelas yang bersifat kajian teoritis, namun melibatkan fisik mental, intelektual, emosional dan sosial. Aktifitas yang diberikan dalam pengajaran harus mendapatkan unsur psikologis, sehingga aktifitas yang dilakukan dapat mencapai tujuan pengajaran. Pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan yang diajarkan di sekolah adalah bertujuan untuk mengembangkan kemampuan intelektual emosional dan keterampilan motorik siswa. Kemampuan motorik ini di harapkan akan dapat mendukung kondisi fisiknya. Dengan kondisi fisik yang baik diharapkan akan dapat menunjang proses 1 belajar mengajar setiap mata pelajaran proses pembelajaran disekolah akan berjalan dengan lancar dan berkesinambungan.
        Pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan (PJOK) merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan yang bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, keterampilan gerak, keterampilan berpikir kritis, keterampilan sosial, penalaran, stabilitas emosional, tindakan moral, aspek pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan bersih melalui aktivitas jasmani, olahraga dan kesehatan terpilih yang direncanakan secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. Pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan (PJOK) yang diajarkan di sekolah memiliki peranan sangat penting, yaitu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk terlibat langsung dalam berbagai pengalaman belajar melalui aktivitas jasmani, olahraga, dan kesehatan yang terpilih yang dilakukan secara sistematis.
     Pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan menjadi sarana untuk mendorong pertumbuhan fisik, perkembangan psikis, keterampilan motorik, pengetahuan dan penalaran, penghayatan nilai-nilai (sikap - mental - emosional - sporlivitas - spiritual - sosial), serta pembiasaan pola hidup sehat. ( Sri Wahyuni dkk. 2010; vi )
Enam proses kognitif yang terdapat dalam taksonomi Anderson dapat membantu guru untuk merumuskan tujuan pembelajaran. Berikut kategori-kategori dalam dimensi proses kognitif:
1.    Mengingat
Mengingat merupakan menarik kembali informasi yang tersimpan dalam memori jangka panjang. Mengingat merupakan proses kognitif yang paling rendah tingkatannya. Untuk mengkondisikan agar “mengingat” bisa menjadi bagian belajar bermakna, tugas mengingat hendaknya selalu dikaitkan dengan aspek pengetahuan yang lebih luas dan bukan sebagai suatu yang lepas dan terisolasi. Kategori ini mencakup dua macam proses kognitif: mengenali (recognizing) dan mengingat (recalling).
1.1 Mengenali (Recognizing):  
Mencakup proses kognitif untuk menarik kembali informasi yang tersimpan dalam memori jangka panjang agar dapat membandingkan dengan informasi yang baru. Contoh: siswa dapat menyebutkan nama alat ukur yang dapat digunakan untuk mengukur diameter kelereng.
1.2 Mengingat (Recalling):
Menarik kembali informasi yang tersimpan dalam memori jangka panjang dengan menggunakan petunjuk yang ada. Contoh: Pada saat disajikan mendefinisikan bunyi Hukum Newton II. 
 2.    Memahami
Mengkonstruk makna atau pengertian berdasarkan pengetahuan awal yang dimiliki, atau mengintegrasikan pengetahuan yang baru ke dalam skema yang telah ada dalam pemikiran siswa. Kategori memahami mencakup tujuh proses kognitif: menafsirkan (interpreting), memberikan contoh (exemplifying), mengkelasifikasikan (classifying), meringkas (summarizing), menarik inferensi (inferring), membandingkan (comparing), dan menjelaskan (explaining).
2.1 Menafsirkan (Interpreting):  
Menafsirkan dapat dengan mengubah dari satu bentuk informasi ke bentuk informasi yang lainnya, misalnya dari dari kata-kata ke grafik atau gambar, atau sebaliknya, dari kata-kata ke angka, atau sebaliknya, maupun dari kata-kata ke kata-kata, misalnya meringkas atau membuat parafrase. Contoh: Membuat grafik berdasarkan data  percobaan.
2.2 Memberikan contoh (Exemplifying):  
Memberikan contoh menuntut kemampuan mengidentifikasi ciri khas suatu konsep dan selanjutnya menggunakan ciri tersebut untuk membuat contoh. Contoh: Siswa dapat memberikan contoh benda-benda yang mengalami perlambatan.
2.3 Mengklasifikasikan (Classifying): 
Mengenali bahwa sesuatu (benda atau fenomena) masuk dalam kategori tertentu. Termasuk dalam kemampuan mengkelasifikasikan adalah mengenali ciri-ciri yang dimiliki suatu benda atau fenomena. Contoh: pada saat disajikan beberapa grafik kinematika, siswa diminta menentukan jenis gerak yang sesuai.
2.4 Meringkas (Summarizing): 
Membuat suatu pernyataan yang mewakili seluruh informasi atau membuat suatu abstrak dari sebuat tulisan. Meringkas menuntut siswa untuk memilih inti dari suatu informasi dan meringkasnya. Contoh: Meringkas sebuah laporan penelitian terbaru mengenai hukum kekekalan energi mekanik.
2.5 Menarik inferensi (Inferring):  
Menemukan suatu pola dari sederetan contoh atau fakta. Contoh: memprediksikan perkembangan suatu populasi dalam sebuah komunitas berdasarkan data perkembangan populasi selama 10 tahun terakhir.
2.6 Membandingkan (Comparing): 
 Mendeteksi persamaan dan perbedaan yang dimiliki dua obyek atau lebih. Contoh: membandingkan Gerak Lurus Beraturan (GLB) dan Gerak Melingkar Beraturan (GMB).
2.7 Menjelaskan (Explaining): 
Mengkonstruk dan menggunakan model sebab-akibat dalam suatu system. Contoh: menjelaskan penggunaan lampu pijar pada siang hari akan mengurasi efisiensi energi.
3.  Mengaplikasikan
Mengaplikasikan mencakup penggunaan suatu prosedur guna menyelesaikan masalah atau mengerjakan tugas. Oleh karena itu mengaplikasikan berkaitan erat dengan pengetahuan prosedural. Namun tidak berarti bahwa kategori ini hanya sesuai untuk pengetahuan prosedural saja. Kategori ini mencakup dua macam proses kognitif: menjalankan (executing) dan mengimplementasikan (implementing).
3.1 Menjalankan (Executing):
Menjalankan suatu prosedur rutin yang telah dipelajari sebelumnya. Langkah-langkah yang diperlukan sudah tertentu dan juga dalam urutan tertentu. Apabila langkah-langkah tersebut benar, maka hasilnya sudah tertentu pula. Contoh: menghitung jumlah gamet dengan 2, 6, dan 17 sifat beda.
3.2 Mengimplementasikan (Implementing): 
Memilih dan menggunakan prosedur yang sesuai untuk menyelesaikan tugas yang baru. Contoh: Setelah menentukan besar konstanta pegas melalui percobaan, siswa dapat menentukan besarnya nilai konstanta pengganti pada suatu rangkaian pegas campuran.
4.  Menganalisis
Mengalisis dapat berupa menguraikan suatu permasalahan atau obyek ke unsur-unsurnya dan menentukan bagaimana saling keterkaitan antar unsur-unsur tersebut. Ada tiga macam proses kognitif yang tercakup dalam menganalisis: menguraikan (differentiating), mengorganisir (organizing), dan menemukan pesan tersirat (attributting).
4.1 Menguraikan (differentiating): 
 Menguraikan suatu struktur dalam bagian-bagian berdasarkan relevansi, fungsi dan penting tidaknya. Contoh: Siswa dapat menguraikan komponen-komponen gaya yang bekerja pada sebuah balok yang berada pada bidang miring.
4.2 Mengorganisir (organizing): 
 Mengidentifikasi  unsur-unsur   suatu    keadaan dan mengenali  bagaimana  unsur-unsur  tersebut ter
kait satu sama lain untuk membentuk  suatu struktur yang padu. Contoh: Siswa dapat mengorganisir bagian-bagian dari motor listrik.
4.3 Menemukan pesan tersirat (attributting): 
Menemukan sudut pandang, bias, dan tujuan dari suatu bentuk komunikasi. Contoh: Siswa dapat mengatribusikan perkembangan motor listrik yang dikembangkan oleh Ampere dan Faraday.
5.  Mengevaluasi
Membuat suatu pertimbangan berdasarkan kriteria dan standar yang ada. Ada dua macam proses kognitif yang tercakup dalam kategori ini: memeriksa (checking) dan mengritik (critiquing).
5.1 Memeriksa (Checking):  
Menguji   konsistensi   atau  kekurangan  suatu   karya
berdasarkan  kriteria  internal (kriteria  yang  melekat  dengan  sifat  produk  tersebut).
Contoh:  Memeriksa apakah   kesimpulan  yang   ditarik   telah   sesuai   dengan  data   yang  ada.
5.2 Mengritik (Critiquing):  
Menilai   suatu   karya  baik  kelebihan   maupun
kekurangannya,  berdasarkan  kriteria  eksternal. Contoh: menilai  apakah   rumusan
hipotesis  sesuai atau   tidak (sesuai  atau  tidaknya  rumusan  hipotesis  dipengaruhi
oleh  pengetahuan   dan  cara   pandang   penilai).
6. Mencipta
Menggabungkan beberapa unsur menjadi suatu bentuk kesatuan. Ada tiga macam proses kognitif yang tergolong dalam kategori ini, yaitu: membuat (generating), merencanakan (planning), dan memproduksi (producing).
6.1 Membuat (Generating):  
Menguraikan suatu masalah sehingga dapat dirumuskan berbagai kemungkinan hipotesis yang mengarah pada pemecahan masalah tersebut. Contoh: merumuskan hipotesis untuk memecahkan permasalahan yang terjadi berdasarkan pengamatan di lapangan.
6.2 Merencanakan (Planning):
 Merancang suatu metode atau strategi untuk memecahkan masalah. Contoh: merancang serangkaian percobaan untuk menguji
hipotesis yang telah dirumuskan.
6.3 Memproduksi (Producing):
Membuat suatu rancangan atau menjalankan suatu rencana untuk memecahkan masalah. Contoh: mendesain (atau juga membuat) suatu alat yang akan digunakan untuk melakukan percobaan.

     Pembelajaran pendidikan jasmani akan bersentuhan dengan tiga aspek yakni aspek kog­nitif, afektif dan psikomotor (Ibrahim 2001:138). Proses dan fungsi aspek kognitif menunjukkan bagaimana otak berfungsi menangkap informasi, dan bagaimana menyadarinya, menyimpan dan menggunakan informasi tersebut, untuk mem­bangkitkan pola-pola tingkah laku, konsep diri, sikap dan perilaku. Perubahan yang berkaitan dengan aspek afektif, misalnya kepuasan pribadi, kesenangan dan kegembiraan, memulihkan tena­ga, ketenangan dan keterampilan batin, termasuk perubahan sikap kearah yang positif, pemben­tukan budi pekerti yang luhur dan akhlak yang mulia. Sedangkan aspek psikomotor meliputi keterampilan dan penguasaan gerak, koordinasi, waktu rekreasi, keseimbangan, kelentukan, kece­patan, kelincahan, daya tahan tubuh dan efesien­si gerak yang sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

C.    TUJUAN PENDIDIKAN JASMANI
    Tujuan umum pendidikan jasmani di sekolah dasar adalha memacu kepda pertumbuhan dan perkembangan jsamani, mental, emosional dan sosial yang selaras dalam upaya membentuk dan mengembangkan kemampuan gerak dasar, menanamkan nilai,  sikap dan membiasakan  hidup  sehat.
1.     Meletakkan landasan  karakter yang  kuat melalui internalisasi  nilai  dalam  pendidikan  jasmani
2.   Membangun  landasan  kepribadian yang  kuat,  sikap cinta  damai,  sikap  sosial  dan  toleransi      dalam  konteks   kemajemukan  budaya, etnis  dan  agama
3.   Menumbuhkan  kemampuan berfikir  kritis  melalui tugas-tugas  pembelajaran Pendidikan  Jasmani
4.     Mengembangkan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggung jawab, kerjasama, percaya diri, dan demokratis melalui aktivitas jasmani
5.   Mengembangkan keterampilan  gerak dan keterampilan  teknik serta  strategi  berbagai  permainan   dan olahraga, aktivitas pengembangan, senam, aktivitas  ritmik, akuatik (aktivitas air) dan pendidikan luar kelas (Outdoor education)
6.    Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai aktivitas jasmani
7.     Mengembangkan keterampilan untuk menjaga keselamatan diri sendiri dan orang lain
8.  Mengetahui dan memahami konsep aktivitas jasmani sebagai informasi untuk mencapai kesehatan, kebugaran dan pola hidup sehat
9.     Mampu mengisi waktu luang dengan aktivitas jasmani yang bersifat rekreatif.


D.    IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN PENJAS
  Menurut Nurdin Usman dalam bukunya yang berjudul Konteks Implementasi  berbasis Kurikulum mengemukakan pendapatnya mengenai implementasi atau pelaksanaan sebagai berikut : “Implementasi adalah bermuara pada aktivitas, aksi, tindakan, atau adanya  mekanisme suatu sistem. Implementasi bukan sekedar aktivitas, tetapi suatu kegiatan yang terencana dan untuk mencapai  tujuan kegiatan”(Usman, 2002:70).
Menurut Guntur Setiawan “Implementasi adalah perluasan  aktivitas yang saling menyesuaikan proses interaksi antara tujuan dan tindakan untuk mencapainya serta memerlukan jaringan pelaksana, birokrasi yang efektif”(Setiawan, 2004:39).
     Pengertian  implementasi  yang dikemukakan tersebut, dapat dikatakan bahwa  implementasi yaitu merupakan  proses untuk melaksanakan ide, proses atau  seperangkat aktivitas baru dengan harapan orang lain dapat menerima dan melakukan  penyesuaian dalam tubuh birokrasi demi terciptanya suatu tujuan yang bisa tercapai dengan jaringan pelaksana yang bisa dipercaya.
Menurut Hanifah Harsono “Implementasi adalah suatu proses untuk melaksanakan kebijakan menjadi tindakan kebijakan dari politik ke dalam administrasi. Pengembangan kebijakan dalam rangka penyempurnaan suatu program”(Harsono, 2002:67).
       Majone dan Wildavsky (dalam Nurdin dan Usman, 2002), mengemukakan implementasi sebagai evaluasi. Browne dan Wildavsky (dalam Nurdin dan Usman, 2004:70) mengemukakan bahwa ”implementasi adalah perluasan aktivitas yang saling menyesuaikan”.
     “Implementasi bermuara pada mekanisme suatu sistem. Ungkapan mekanisme mengandung arti bahwa implementasi bukan sekedar aktivitas, tetapi suatu kegiatan yang terencana dan dilakukan secara sungguh-sungguh berdasarkan acuan norma tertentu untuk mencapai tujuan kegiatan Secara sederhana implementasi bisa diartikan pelaksanaan atau penerapan. 
        Beberapa metode pembelajaran yang ada, diantaranya yaitu:
1 .  Metode Ceramah.
     Metode ini dalam menyampaikan materi kepada peserta didik dilaksanakan secara lisan.
2.  Metode Demonstrasi. 
    Demontrasi  merupakan metode yang digunakan untuk membelajarkan  peserta  didik  dengan   menceritakan dan  memperagakan suatu langkah-langkah pengerjaan sesuatu. demonstrasi merupakan praktek yang diperagakan  kepada peserta.
3.    Metode Diskusi.
     Metode diskusi digunakan untuk menumbuhkan interaksi antar siswa maupun antara siswa dengan guru. Metode ini juga digunakan untuk memberikan pengalaman kepada siswa agar terbiasa berbicara diforum, mendidik siswa agar dapat menghargai pendapat orang lain. Metode diskusi ada yang membagi menjadi dua yaitu diskusi kelompok dan diskusi kelas.
4.   Metode Simulasi.
     Metode ini menampilkan simbol-simbol, atau peralatan yang menggantikan proses, kejadian, atau benda yang sebenarnya, siswa dapat melakukan seperti keadaan sebenarnya, tetapi bukan proses, kejadian atau benda yang sebenarnya. Pada intinya metode ini memindahkan situasi yang nyata kedalam kegiatan atau ruang belajar karena adanya kesulitan untuk melakukan praktek dalam situasi yang sebenarnya.

   Pada konsep pembelajaran PJOK sebenarnya penerapan pendekatan scientifik telah lama diterapkan, jika mengacu pada model-model pembelajaran menurut Muska Mosston, terutama selain model komando. Karena sekian banyak pemahaman guru  PJOK masih mengutamakan tujuan keterampilan olahraga (prestasi), sehingga nilai-nilai pendidikan yang lebih utama sering dikesampingkan. Hal ini yang mengakibatkan kompetensi Inti (Religius, Sikap, Pengetahuan dan Keterampilan) lebih didominasi pada keterampilan semata yang kurang memperhatikan ranah sikap dan pengetahuan khususnya dasar-dasar kualitas gerak.

   Berikut diuraikan pendekatan scientific dalam pembelajaran PJOK sebagai dasar dalam pelaksanaan dalam Kurikulum 2013, diharapkan akan menjadikan peserta didik lebih berkembang kecerdasan majemuknya.
a.      Pengertian Pendekatan Scientific
      Kurikulum 2013 menekankan penerapan pendekatan ilmiah atau scientific approach pada proses   pembelajaran. Pendekatan ilmiah (scientific  approach) dalam pembelajaran sebagaimana dimaksud dalam permendikbud no 81A tahun 2013 meliputi; mengamati, menanya, mengumpulkan informasi/mencoba, mengasosiasi, mengomunikasikan. 
    Proses pembelajaran harus menyentuh tiga ranah, yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Dalam proses pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah, ranah sikap menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang ‘mengapa’. ranah keterampilan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang ‘bagaimana’. ranah pengetahuan menggamit transformasi substansi atau materi  ajar agar peserta didik tahu tentang‘apa’. 
Hasil akhirnya adalah peningkatan dan  keseimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusia yang baik (soft skills) dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skills) dari peserta didik yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan.
       Pendekatan ilmiah dalam pembelajaran penjasorkes dapat disajikan seperti berikut ini: 
1.    Mengamati
   Mengamati adalah proses mengenal objek melalui penggunaan indra yang dimiliki, misalnyadengan melihat/menonton, mendengarkan, dan membaca. Sehingga peserta didik akan memperoleh  konsep awal dan menemukan permasalahan-permasalahan  dalam  materi yang akan dipelajari. Proses ini juga menyebabkan peserta didik memahami obyek secara nyata, senang, tertantang, dan  memudahkan  pelaksanaan  proses  pembelajaran  selanjutnya.
         Contoh  kegiatan mengamati dalam pembelajaran   materi  pokok  sepak  bola:
· Mencari dan membaca informasi variasi dan kombinasi teknik teknik permainan sepak bola (mengumpan, mengontrol, menggiring, posisi, dan menembak bola ke gawang) dari berbagai sumber media cetak atau elektronik. Proses pengamatan ini dapat dilakukan sebelum atau sesudah pembelajaran.
·  Mengamati pertandingan sepak bola secara langsung dan atau di TV/Video dan membuat catatan tentang variasi dan kombinasi teknik dasar (mengumpan, mengontrol, menggiring, dan menembak bola ke gawang) dan membuat catatan hasil pengamatan, atau
·  Bermain sepak bola dan yang lainnya mengamati pertandingan tersebut, dan membuat catatan tentang kekuatan dan kelemahan variasi dan kombinasi (mengumpan, mengontrol, menggiring, posisi, dan menembak bola ke gawang) yang dilakukan oleh temannya selama bermain 
2.    Menanya
      Pada proses ini guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengungkapkan berbagai masalah yang ditemukan pada saat proses pengamatan dengan berbagai bentuk pertanyaan baik yang berkaitan dengan sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan kompetensi yang akan diraihnya.
        Contoh kegiatan menanya dalam pemainan sepakbola:
·    Pertanyaan yang berhubungan dengan afektif: bagaimana jalannya permainan sepakbola bila tidak didukung oleh kerjasama team?
·   Pertanyaan yang berhubungan dengan keterampilan: bagaimana jalannya bola jika titik perkenaan bola dengan kaki dirubah (bawah, tengah dan atas bola)?”, apakah jarak titik tumpu berpengaruh terhadap kekuatan menendang bola?, berapakah kekuatan di transfer ke bola sehingga bola sampai pada jarak yang diinginkan?.
· Pertanyaan yang berhubungan dengan kognitif: apa manfaat permainan sepak bola terhadap kesehatan dan otot-otot yang dominan yang dipergunakan dalam permainan sepak bola? 
3.   Mengumpulkan informasi/eksperimen
     Kegiatan mengumpulkan informasi/eksperimen ini merupakan bagian dari kegiatan eksplorasi   yaitu untuk mencari jawaban terhadap pertanyaan terkait dengan pengembangan kompetensi       sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
      Contoh kegiatan eksperimen dalam pemainan sepakbola:
·    Mengeksperimenkan bermain sepak bola tanpa kerjasama tim
·  Mengeksperimenkan cara menendang dengan merubah titik perkenaan kaki dengan bola  secara individual, berpasangan  atau berkelompok dalam posisi di tempat dan sambil bergerak  dasar fundamental dengan menunjukkan nilai disiplin, menghargai perbedaan, dan kerjasama. 
4.   Mengasosiasi/menalar
      Menalar  adalah  proses  berfikir yang logis  dan  sistematis  atas  fakta-kata  empiris  yang  dapat  diobservasi untuk memperoleh  simpulan  berupa  pengetahuan. Istilah  menalar  dalam pembelajaran merujuk pada kemampuan mengelompokkan beragam ide dan beragam peristiwa  untuk  kemudian  dijadikan  sebagai  dasar  pembuatan  keputusan.
       Contoh kegiatan menalar dalam pemainan sepakbola:
·  Mencari  hubungan  antara   titik  perkenaan  bola dengan kaki  dikaitkan  dengan  arah  gerak bola      sehingga  mampu  memilih alternatif terbaik.
·     Mencari  hubungan  antara jenis tendangan dengan  sasaran yang hendak dicapai   sehingga                  mampu memilih alternatif terbaik.
·  Mencari hubungan antara permainan sepak bola dengan kesehatan dan kebugaran tubuh. 
5.   Mengomunikasikan
      Mengomunikasikan adalah proses penyajian berbagai sikap, pengetahuan, dan keterampilan         dalam bentuk penyampaian informasi, peragaan keterampilan, dan sikap dalam pembelajaran atau kehidupan. Contoh kegiatan mengomunikasikan dalam pemainan sepakbola:
Melakukan permainan sepak bola dengan menggunakan peraturan yang dimodifikasi dengan       menerapkan gerak dasar fundamental permainan sepak bola (mengumpan, menghentikan, dan     menggiring) serta menunjukkan sikap sportif,  kerjasama,  bertanggung jawab, menghargai           perbedaan, disiplin, dan toleransi selama bermain.

  E.     PEMURNIAN OLAHRAGA 
        Pemurnian olahraga dimulai dari PJOK di sekolah. Nilai-nilai yang terkandung di dalam  PJOK diterapkan sejak di lingkungan sekolah, agar olahraga di Indonesia dapat berkembang dan dipandang di Nasional, Asia maupun di Panca Negara. Sistem yang diterapkan di sekolah menjadi harapan untuk perkembangan olahraga. Namun banyak sekali hal yang harus di hindari untuk pemurnian olahraga di negara. Seperti unsur politik, unsur bisnis, unsur alat negara, unsur pembinaan prestasi dan pemetaan.
      Olahraga sekarang ini banyak sekali dicampur tangani dengan unsur politik yang berpengaruh besar terhadap perkembangan olahraga. Aristoteles melihat politik sebagai kecenderungan alami dan tidak dapat dihindari manusia, misalnya ketika ia mencoba untuk menentukan posisinya dalam masyarakat, ketika ia berusaha meraih kesejahteraan pribadi, dan ketika ia berupaya memengaruhi orang lain agar menerima pandangannya. Aristoteles berkesimpulan bahwa usaha memaksimalkan kemampuan individu dan mencapai bentuk kehidupan sosial yang tinggi adalah melalui interaksi politik dengan orang lain. Interaksi itu terjadi di dalam suatu kelembagaan yang dirancang untuk memecahkan konflik sosial dan membentuk tujuan negara.
Dengan demikian kata politik menunjukkan suatu aspek kehidupan, yaitu kehidupan politik yang lazim dimaknai sebagai kehidupan yang menyangkut segi-segi kekuasaan dengan unsur-unsur: negara (state), kekuasaan (power), pengambilan keputusan (decision making), kebijakan (policy, beleid), dan pembagian (distribution) atau alokasi (allocation).
      Pada umumnya dapat dikatakan bahwa politik (politics) adalah bermacam-macam kegiatan dalam suatu sistem politik (atau negara) yang menyangkut proses menentukan tujuan-tujuan dari sistem itu dan melaksanakan tujuan-tujuan itu. Pengambilan keputusan (decision making) mengenai apakah yang menjadi tujuan dari sistem politik itu menyangkut seleksi terhadap beberapa alternatif dan penyusunan skala prioritas dari tujuan-tujuan yang telah dipilih. Sedangkan untuk melaksanakan tujuan-tujuan itu perlu ditentukan kebijakan-kebijakan umum (public policies) yang menyangkut pengaturan dan pembagian (distribution) atau alokasi (allocation) dari sumber-sumber (resources) yang ada.
     Untuk bisa berperan aktif melaksanakan kebijakan-kebijakan itu, perlu dimiliki kekuasaan (power) dan kewenangan (authority) yang akan digunakan baik untuk membina kerjasama maupun untuk menyelesaikan konflik yang mungkin timbul dalam proses itu. Cara-cara yang digunakan dapat bersifat meyakinkan (persuasive) dan jika perlu bersifat paksaan (coercion). Tanpa unsur paksaan, kebijakan itu hanya merupakan perumusan keinginan (statement of intent) belaka.

        Politik merupakan upaya atau cara untuk memperoleh sesuatu yang dikehendaki. Namun banyak pula yang beranggapan bahwa politik tidak hanya berkisar di lingkungan kekuasaan negara atau tindakan-tindakan yang dilaksanakan oleh penguasa negara. Dalam beberapa aspek kehidupan, manusia sering melakukan tindakan politik, baik politik dagang, budaya, sosial, maupun dalam aspek kehidupan lainnya. Demikianlah politik selalu menyangkut tujuan-tujuan dari seluruh masyarakat (public goals) dan bukan tujuan pribadi seseorang (private goals). Politik menyangkut kegiatan berbagai kelompok, termasuk partai politik dan kegiatan-kegiatan perseorangan (individu).
BAB II
PENUTUP 

KESIMPULAN

        Pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan (PJOK) merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan yang bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, keterampilan gerak, keterampilan berpikir kritis, keterampilan sosial, penalaran, stabilitas emosional, tindakan moral, aspek pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan bersih melalui aktivitas jasmani, olahraga dan kesehatan terpilih yang direncanakan secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.

      DAFTAR PUSTAKA

      Clarence, H. Benson. 1980. Teknik Mengajar. Malang: Gandum Mas.
      Suharsimi, Arikunto. 1992. Pengelolaan Kelas dan Siswa. Jakarta: CV Rajawali
     Syarifudin. 1997. Pokok-pokok Pengembangan Pembelajaran Pendidikan Jasmani. Jakarta:                Pusat Perbukuan.
     Usman, Moh. Uzer. 1992. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

1 komentar: