BAB I
PEMBAHASAN
Pada konsep pembelajaran PJOK sebenarnya penerapan pendekatan scientifik telah lama diterapkan, jika mengacu pada model-model pembelajaran menurut Muska Mosston, terutama selain model komando. Karena sekian banyak pemahaman guru PJOK masih mengutamakan tujuan keterampilan olahraga (prestasi), sehingga nilai-nilai pendidikan yang lebih utama sering dikesampingkan. Hal ini yang mengakibatkan kompetensi Inti (Religius, Sikap, Pengetahuan dan Keterampilan) lebih didominasi pada keterampilan semata yang kurang memperhatikan ranah sikap dan pengetahuan khususnya dasar-dasar kualitas gerak.
Berikut diuraikan pendekatan scientific dalam pembelajaran PJOK sebagai dasar dalam pelaksanaan dalam Kurikulum 2013, diharapkan akan menjadikan peserta didik lebih berkembang kecerdasan majemuknya.
A. PENDIDIKAN JASMANI DAN KESEHATAN
Pendidikan jasmani merupakan
suatu proses seseorang sebagai individu maupun anggota masyarakat yang dilakukan
secara sadar dan sistematik melalui berbagai kegiatan dalam rangka memperoleh
kemampuan dan keterampilan jasmani, pertumbuhan, kecerdasan, dan pembentukanwatak
Pendidikan jasmani pada hakikatnya
adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik untuk menghasilkan
perubahan holistik dalam kualitas individu, baik dalam hal fisik, mental, serta
emosional.
Pendidikan jasmani dan olahraga adalah
laboratorium bagi pengalaman manusia, karena dalam pendidikan jasmani
menyediakan kesempatan untuk memperlihatkan mengembangan karakter. Pengajaran
etika dalam pendidikan jasmani biasanya dengan contoh atau perilaku. Pengajar
tidak baik berkata kepada muridnya untuk memperlakukan orang lain secara adil
kalau dia tidak memperlakukan muridnya secara adil.
Pantas
rasanya jika kita setuju untuk mengemukakan bahwa pendidikan jasmani dan
olahraga merupakan dasar atau alat pendidikan dalam membentuk manusia seutuhnya,
dalam pengembangan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor yang behavior
dalam membentuk kemampuan manusia yang berwatak dan bermoral.
Pendidikan jasmani adalah suatu proses pendidikan seseorang sebagai perorangan atau anggota masyarakat yang dilakukan secara sadar dan sistematik melalui berbagai kegiatan jasmani untuk memperoleh pertumbuhan jasmani, kesehatan dan kesegaran jasmani, kemampuan dan keterampilan, kecerdasan dan perkembangan watak serta kepribadian yang harmonis dalam rangka pembentukan manusia Indonesia berkualitas berdasarkan Pancasila. Secara eksplisit istilah pendidikan jasmani dibedakan dengan olahraga. Dalam arti sempit olahraga diidentikkan sebagai gerak badan. Olahraga ditilik dari asal katanya dari bahasa jawa olah yang berarti melatih diri dan rogo (raga) berarti badan. Secara luas olahraga dapat diartikan sebagai segala kegiatan atau usaha untuk mendorong, membangkitkan, mengembangkan dan membina kekuatan-kekuatan jasmaniah maupun rokhaniah pada setiap manusia.
Olahraga adalah proses sistematik yang berupa segala kegiatan atau usaha yang dapat mendorong mengembangkan, dan membina potensi-potensi jasmaniah dan rohaniah seseorang sebagai perorangan atau anggota masyarakat dalam bentuk permainan, perlombaan/ pertandingan, dan kegiatan jasmani yang intensif untuk memperoleh rekreasi, kemenangan, dan prestasi puncak dalam rangka pembentukan manusia Indonesia seutuhnya yang berkualitas berdasarkan Pancasila.
Pendidikan jasmani adalah suatu proses pendidikan seseorang sebagai perorangan atau anggota masyarakat yang dilakukan secara sadar dan sistematik melalui berbagai kegiatan jasmani untuk memperoleh pertumbuhan jasmani, kesehatan dan kesegaran jasmani, kemampuan dan keterampilan, kecerdasan dan perkembangan watak serta kepribadian yang harmonis dalam rangka pembentukan manusia Indonesia berkualitas berdasarkan Pancasila. Secara eksplisit istilah pendidikan jasmani dibedakan dengan olahraga. Dalam arti sempit olahraga diidentikkan sebagai gerak badan. Olahraga ditilik dari asal katanya dari bahasa jawa olah yang berarti melatih diri dan rogo (raga) berarti badan. Secara luas olahraga dapat diartikan sebagai segala kegiatan atau usaha untuk mendorong, membangkitkan, mengembangkan dan membina kekuatan-kekuatan jasmaniah maupun rokhaniah pada setiap manusia.
Olahraga adalah proses sistematik yang berupa segala kegiatan atau usaha yang dapat mendorong mengembangkan, dan membina potensi-potensi jasmaniah dan rohaniah seseorang sebagai perorangan atau anggota masyarakat dalam bentuk permainan, perlombaan/ pertandingan, dan kegiatan jasmani yang intensif untuk memperoleh rekreasi, kemenangan, dan prestasi puncak dalam rangka pembentukan manusia Indonesia seutuhnya yang berkualitas berdasarkan Pancasila.
B.
PEMBELAJARAN PENJAS
Pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani,
olahraga, dan kesehatan (PJOK) bukan melalui pengajaran didalam kelas yang
bersifat kajian teoritis, namun melibatkan fisik mental, intelektual, emosional
dan sosial. Aktifitas yang diberikan dalam pengajaran harus mendapatkan unsur psikologis,
sehingga aktifitas yang dilakukan dapat mencapai tujuan pengajaran. Pendidikan
jasmani olahraga dan kesehatan yang diajarkan di sekolah adalah bertujuan untuk
mengembangkan kemampuan intelektual emosional dan keterampilan motorik siswa.
Kemampuan motorik ini di harapkan akan dapat mendukung kondisi fisiknya. Dengan
kondisi fisik yang baik diharapkan akan dapat menunjang proses 1 belajar
mengajar setiap mata pelajaran proses pembelajaran disekolah akan berjalan
dengan lancar dan berkesinambungan.
Pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan (PJOK)
merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan yang bertujuan
untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, keterampilan gerak, keterampilan
berpikir kritis, keterampilan sosial, penalaran, stabilitas emosional, tindakan
moral, aspek pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan bersih melalui
aktivitas jasmani, olahraga dan kesehatan terpilih yang direncanakan secara
sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. Pendidikan
jasmani, olahraga, dan kesehatan (PJOK) yang diajarkan di sekolah memiliki
peranan sangat penting, yaitu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk
terlibat langsung dalam berbagai pengalaman belajar melalui aktivitas jasmani,
olahraga, dan kesehatan yang terpilih yang dilakukan secara sistematis.
Pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan menjadi
sarana untuk mendorong pertumbuhan fisik, perkembangan psikis, keterampilan
motorik, pengetahuan dan penalaran, penghayatan nilai-nilai (sikap - mental -
emosional - sporlivitas - spiritual - sosial), serta pembiasaan pola hidup
sehat. ( Sri Wahyuni dkk. 2010; vi )
Enam proses kognitif yang terdapat dalam taksonomi Anderson dapat membantu
guru untuk merumuskan tujuan pembelajaran. Berikut kategori-kategori dalam
dimensi proses kognitif:
1. Mengingat
Mengingat merupakan menarik kembali informasi yang
tersimpan dalam memori jangka panjang. Mengingat merupakan proses kognitif yang
paling rendah tingkatannya. Untuk mengkondisikan agar “mengingat” bisa menjadi
bagian belajar bermakna, tugas mengingat hendaknya selalu dikaitkan dengan
aspek pengetahuan yang lebih luas dan bukan sebagai suatu yang lepas dan
terisolasi. Kategori ini mencakup dua macam proses kognitif: mengenali (recognizing)
dan mengingat (recalling).
1.1
Mengenali (Recognizing):
Mencakup proses kognitif untuk menarik kembali informasi yang tersimpan dalam
memori jangka panjang agar dapat membandingkan dengan informasi yang baru.
Contoh: siswa dapat menyebutkan nama alat ukur yang dapat digunakan untuk
mengukur diameter kelereng.
Mencakup proses kognitif untuk menarik kembali
1.2 Mengingat
(Recalling):
Menarik kembali informasi yang tersimpan dalam memori jangka panjang dengan menggunakan petunjuk yang ada. Contoh: Pada saat disajikan mendefinisikan bunyi Hukum Newton II.
2. Memahami
Menarik kembali informasi yang tersimpan dalam memori jangka panjang dengan menggunakan petunjuk yang ada. Contoh: Pada saat disajikan mendefinisikan bunyi Hukum Newton II.
2. Memahami
Mengkonstruk makna atau pengertian
berdasarkan pengetahuan awal yang dimiliki, atau mengintegrasikan pengetahuan
yang baru ke dalam skema yang telah ada dalam pemikiran siswa. Kategori
memahami mencakup tujuh proses kognitif: menafsirkan (interpreting),
memberikan contoh (exemplifying), mengkelasifikasikan (classifying),
meringkas (summarizing), menarik inferensi (inferring),
membandingkan (comparing), dan menjelaskan (explaining).
2.1 Menafsirkan
(Interpreting):
Menafsirkan dapat dengan mengubah dari satu bentuk informasi ke bentuk informasi yang lainnya, misalnya dari dari kata-kata ke grafik atau gambar, atau sebaliknya, dari kata-kata ke angka, atau sebaliknya, maupun dari kata-kata ke kata-kata, misalnya meringkas atau membuat parafrase. Contoh: Membuat grafik berdasarkan data percobaan.
Menafsirkan dapat dengan mengubah dari satu bentuk informasi ke bentuk informasi yang lainnya, misalnya dari dari kata-kata ke grafik atau gambar, atau sebaliknya, dari kata-kata ke angka, atau sebaliknya, maupun dari kata-kata ke kata-kata, misalnya meringkas atau membuat parafrase. Contoh: Membuat grafik berdasarkan data percobaan.
2.2
Memberikan contoh (Exemplifying):
Memberikan contoh menuntut kemampuan mengidentifikasi ciri khas suatu konsep dan selanjutnya menggunakan ciri tersebut untuk membuat contoh. Contoh: Siswa dapat memberikan contoh benda-benda yang mengalami perlambatan.
Memberikan contoh menuntut kemampuan mengidentifikasi ciri khas suatu konsep dan selanjutnya menggunakan ciri tersebut untuk membuat contoh. Contoh: Siswa dapat memberikan contoh benda-benda yang mengalami perlambatan.
2.3
Mengklasifikasikan (Classifying):
Mengenali bahwa sesuatu (benda atau fenomena) masuk dalam kategori tertentu. Termasuk dalam kemampuan mengkelasifikasikan adalah mengenali ciri-ciri yang dimiliki suatu benda atau fenomena. Contoh: pada saat disajikan beberapa grafik kinematika, siswa diminta menentukan jenis gerak yang sesuai.
Mengenali bahwa sesuatu (benda atau fenomena) masuk dalam kategori tertentu. Termasuk dalam kemampuan mengkelasifikasikan adalah mengenali ciri-ciri yang dimiliki suatu benda atau fenomena. Contoh: pada saat disajikan beberapa grafik kinematika, siswa diminta menentukan jenis gerak yang sesuai.
2.4
Meringkas (Summarizing):
Membuat suatu pernyataan yang mewakili seluruh informasi atau membuat suatu abstrak dari sebuat tulisan. Meringkas menuntut siswa untuk memilih inti dari suatu informasi dan meringkasnya. Contoh: Meringkas sebuah laporan penelitian terbaru mengenai hukum kekekalan energi mekanik.
Membuat suatu pernyataan yang mewakili seluruh informasi atau membuat suatu abstrak dari sebuat tulisan. Meringkas menuntut siswa untuk memilih inti dari suatu informasi dan meringkasnya. Contoh: Meringkas sebuah laporan penelitian terbaru mengenai hukum kekekalan energi mekanik.
2.5
Menarik inferensi (Inferring):
Menemukan suatu pola dari sederetan contoh atau fakta. Contoh: memprediksikan perkembangan suatu populasi dalam sebuah komunitas berdasarkan data perkembangan populasi selama 10 tahun terakhir.
Menemukan suatu pola dari sederetan contoh atau fakta. Contoh: memprediksikan perkembangan suatu populasi dalam sebuah komunitas berdasarkan data perkembangan populasi selama 10 tahun terakhir.
2.6
Membandingkan (Comparing):
Mendeteksi persamaan dan perbedaan yang dimiliki dua obyek atau lebih. Contoh: membandingkan Gerak Lurus Beraturan (GLB) dan Gerak Melingkar Beraturan (GMB).
Mendeteksi persamaan dan perbedaan yang dimiliki dua obyek atau lebih. Contoh: membandingkan Gerak Lurus Beraturan (GLB) dan Gerak Melingkar Beraturan (GMB).
2.7
Menjelaskan (Explaining):
Mengkonstruk dan menggunakan model sebab-akibat dalam suatu system. Contoh: menjelaskan penggunaan lampu pijar pada siang hari akan mengurasi efisiensi energi.
Mengkonstruk dan menggunakan model sebab-akibat dalam suatu system. Contoh: menjelaskan penggunaan lampu pijar pada siang hari akan mengurasi efisiensi energi.
3. Mengaplikasikan
Mengaplikasikan mencakup penggunaan
suatu prosedur guna menyelesaikan masalah atau mengerjakan tugas. Oleh karena
itu mengaplikasikan berkaitan erat dengan pengetahuan prosedural. Namun tidak
berarti bahwa kategori ini hanya sesuai untuk pengetahuan prosedural saja.
Kategori ini mencakup dua macam proses kognitif: menjalankan (executing)
dan mengimplementasikan (implementing).
3.1
Menjalankan (Executing):
Menjalankan suatu prosedur rutin yang telah dipelajari sebelumnya. Langkah-langkah yang diperlukan sudah tertentu dan juga dalam urutan tertentu. Apabila langkah-langkah tersebut benar, maka hasilnya sudah tertentu pula. Contoh: menghitung jumlah gamet dengan 2, 6, dan 17 sifat beda.
Menjalankan suatu prosedur rutin yang telah dipelajari sebelumnya. Langkah-langkah yang diperlukan sudah tertentu dan juga dalam urutan tertentu. Apabila langkah-langkah tersebut benar, maka hasilnya sudah tertentu pula. Contoh: menghitung jumlah gamet dengan 2, 6, dan 17 sifat beda.
3.2
Mengimplementasikan (Implementing):
Memilih dan menggunakan prosedur yang sesuai untuk menyelesaikan tugas yang baru. Contoh: Setelah menentukan besar konstanta pegas melalui percobaan, siswa dapat menentukan besarnya nilai konstanta pengganti pada suatu rangkaian pegas campuran.
Memilih dan menggunakan prosedur yang sesuai untuk menyelesaikan tugas yang baru. Contoh: Setelah menentukan besar konstanta pegas melalui percobaan, siswa dapat menentukan besarnya nilai konstanta pengganti pada suatu rangkaian pegas campuran.
4. Menganalisis
Mengalisis dapat berupa menguraikan
suatu permasalahan atau obyek ke unsur-unsurnya dan menentukan bagaimana saling
keterkaitan antar unsur-unsur tersebut. Ada tiga macam proses kognitif yang
tercakup dalam menganalisis: menguraikan (differentiating),
mengorganisir (organizing), dan menemukan pesan tersirat (attributting).
4.1
Menguraikan (differentiating):
Menguraikan suatu struktur dalam bagian-bagian berdasarkan relevansi, fungsi dan penting tidaknya. Contoh: Siswa dapat menguraikan komponen-komponen gaya yang bekerja pada sebuah balok yang berada pada bidang miring.
Menguraikan suatu struktur dalam bagian-bagian berdasarkan relevansi, fungsi dan penting tidaknya. Contoh: Siswa dapat menguraikan komponen-komponen gaya yang bekerja pada sebuah balok yang berada pada bidang miring.
4.2
Mengorganisir (organizing):
Mengidentifikasi unsur-unsur suatu keadaan dan mengenali bagaimana unsur-unsur tersebut ter
kait satu sama lain untuk membentuk suatu struktur yang padu. Contoh: Siswa dapat mengorganisir bagian-bagian dari motor listrik.
Mengidentifikasi unsur-unsur suatu keadaan dan mengenali bagaimana unsur-unsur tersebut ter
kait satu sama lain untuk membentuk suatu struktur yang padu. Contoh: Siswa dapat mengorganisir bagian-bagian dari motor listrik.
4.3
Menemukan pesan tersirat (attributting):
Menemukan sudut pandang, bias, dan tujuan dari suatu bentuk komunikasi. Contoh: Siswa dapat mengatribusikan perkembangan motor listrik yang dikembangkan oleh Ampere dan Faraday.
Menemukan sudut pandang, bias, dan tujuan dari suatu bentuk komunikasi. Contoh: Siswa dapat mengatribusikan perkembangan motor listrik yang dikembangkan oleh Ampere dan Faraday.
5. Mengevaluasi
Membuat suatu pertimbangan
berdasarkan kriteria dan standar yang ada. Ada dua macam proses kognitif yang
tercakup dalam kategori ini: memeriksa (checking) dan mengritik (critiquing).
5.1
Memeriksa (Checking):
Menguji konsistensi atau kekurangan suatu karya
Menguji konsistensi atau kekurangan suatu karya
berdasarkan kriteria internal
(kriteria yang melekat dengan sifat produk tersebut).
Contoh: Memeriksa apakah kesimpulan
yang ditarik telah sesuai dengan data yang ada.
5.2
Mengritik (Critiquing):
Menilai suatu karya baik kelebihan maupun
Menilai suatu karya baik kelebihan maupun
kekurangannya, berdasarkan kriteria
eksternal. Contoh: menilai apakah rumusan
hipotesis sesuai atau tidak (sesuai
atau tidaknya rumusan hipotesis dipengaruhi
oleh pengetahuan dan cara pandang
penilai).
6. Mencipta
Menggabungkan beberapa unsur menjadi
suatu bentuk kesatuan. Ada tiga macam proses kognitif yang tergolong dalam
kategori ini, yaitu: membuat (generating), merencanakan (planning),
dan memproduksi (producing).
6.1
Membuat (Generating):
Menguraikan suatu masalah sehingga dapat dirumuskan berbagai kemungkinan hipotesis yang mengarah pada pemecahan masalah tersebut. Contoh: merumuskan hipotesis untuk memecahkan permasalahan yang terjadi berdasarkan pengamatan di lapangan.
Menguraikan suatu masalah sehingga dapat dirumuskan berbagai kemungkinan hipotesis yang mengarah pada pemecahan masalah tersebut. Contoh: merumuskan hipotesis untuk memecahkan permasalahan yang terjadi berdasarkan pengamatan di lapangan.
6.2
Merencanakan (Planning):
Merancang suatu metode atau strategi untuk memecahkan masalah. Contoh: merancang serangkaian percobaan untuk menguji
Merancang suatu metode atau strategi untuk memecahkan masalah. Contoh: merancang serangkaian percobaan untuk menguji
hipotesis yang telah dirumuskan.
6.3
Memproduksi (Producing):
Membuat suatu rancangan atau menjalankan suatu rencana untuk memecahkan masalah. Contoh: mendesain (atau juga membuat) suatu alat yang akan digunakan untuk melakukan percobaan.
Membuat suatu rancangan atau menjalankan suatu rencana untuk memecahkan masalah. Contoh: mendesain (atau juga membuat) suatu alat yang akan digunakan untuk melakukan percobaan.
Pembelajaran pendidikan jasmani akan
bersentuhan dengan tiga aspek yakni aspek kognitif, afektif dan psikomotor
(Ibrahim 2001:138). Proses dan fungsi aspek kognitif menunjukkan bagaimana otak
berfungsi menangkap informasi, dan bagaimana menyadarinya, menyimpan dan
menggunakan informasi tersebut, untuk membangkitkan pola-pola tingkah laku,
konsep diri, sikap dan perilaku. Perubahan yang berkaitan dengan aspek afektif,
misalnya kepuasan pribadi, kesenangan dan kegembiraan, memulihkan tenaga,
ketenangan dan keterampilan batin, termasuk perubahan sikap kearah yang
positif, pembentukan budi pekerti yang luhur dan akhlak yang mulia. Sedangkan
aspek psikomotor meliputi keterampilan dan penguasaan gerak, koordinasi, waktu
rekreasi, keseimbangan, kelentukan, kecepatan, kelincahan, daya tahan tubuh
dan efesiensi gerak yang sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.
C. TUJUAN PENDIDIKAN JASMANI
Tujuan umum pendidikan jasmani di
sekolah dasar adalha memacu kepda pertumbuhan dan perkembangan jsamani, mental,
emosional dan sosial yang selaras dalam upaya membentuk dan mengembangkan
kemampuan gerak dasar, menanamkan nilai, sikap dan membiasakan hidup sehat.
1. Meletakkan landasan karakter yang
kuat melalui internalisasi nilai dalam pendidikan jasmani
2. Membangun landasan kepribadian
yang kuat, sikap cinta damai, sikap sosial dan toleransi dalam konteks
kemajemukan budaya, etnis dan agama
3. Menumbuhkan kemampuan berfikir kritis melalui tugas-tugas pembelajaran
Pendidikan Jasmani
4. Mengembangkan sikap sportif,
jujur, disiplin, bertanggung jawab, kerjasama, percaya diri, dan demokratis
melalui aktivitas jasmani
5. Mengembangkan keterampilan gerak
dan keterampilan teknik serta strategi berbagai permainan dan olahraga,
aktivitas pengembangan, senam, aktivitas ritmik, akuatik (aktivitas air) dan
pendidikan luar kelas (Outdoor education)
6. Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan
pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai
aktivitas jasmani
7. Mengembangkan keterampilan untuk
menjaga keselamatan diri sendiri dan orang lain
8. Mengetahui dan memahami konsep aktivitas jasmani sebagai informasi untuk
mencapai kesehatan, kebugaran dan pola hidup sehat
9. Mampu mengisi waktu luang dengan
aktivitas jasmani yang bersifat rekreatif.
D. IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN
PENJAS
Menurut Nurdin Usman dalam
bukunya yang berjudul Konteks Implementasi berbasis Kurikulum mengemukakan
pendapatnya mengenai implementasi atau pelaksanaan sebagai berikut : “Implementasi
adalah bermuara pada aktivitas, aksi, tindakan, atau adanya mekanisme suatu
sistem. Implementasi bukan sekedar aktivitas, tetapi suatu kegiatan yang
terencana dan untuk mencapai tujuan kegiatan”(Usman, 2002:70).
Menurut Guntur Setiawan “Implementasi adalah perluasan
aktivitas yang saling menyesuaikan proses interaksi antara tujuan dan tindakan
untuk mencapainya serta memerlukan jaringan pelaksana, birokrasi yang
efektif”(Setiawan, 2004:39).
Pengertian implementasi yang dikemukakan tersebut, dapat dikatakan
bahwa implementasi yaitu merupakan proses untuk melaksanakan ide, proses atau
seperangkat aktivitas baru dengan harapan orang lain dapat menerima dan
melakukan penyesuaian dalam tubuh birokrasi demi terciptanya suatu tujuan yang
bisa tercapai dengan jaringan pelaksana yang bisa dipercaya.
Menurut Hanifah Harsono
“Implementasi adalah suatu proses untuk melaksanakan kebijakan menjadi tindakan
kebijakan dari politik ke dalam administrasi. Pengembangan kebijakan dalam
rangka penyempurnaan suatu program”(Harsono, 2002:67).
Majone dan Wildavsky (dalam Nurdin dan Usman, 2002),
mengemukakan implementasi sebagai evaluasi. Browne dan Wildavsky (dalam Nurdin
dan Usman, 2004:70) mengemukakan bahwa ”implementasi adalah perluasan aktivitas
yang saling menyesuaikan”.
“Implementasi
bermuara pada mekanisme suatu sistem. Ungkapan mekanisme mengandung arti bahwa
implementasi bukan sekedar
aktivitas, tetapi suatu kegiatan yang terencana dan dilakukan secara
sungguh-sungguh berdasarkan acuan norma tertentu untuk mencapai tujuan kegiatan Secara sederhana implementasi bisa diartikan pelaksanaan
atau penerapan.
Beberapa metode pembelajaran yang ada, diantaranya yaitu:
1 . Metode Ceramah.
Metode ini dalam menyampaikan materi kepada peserta didik dilaksanakan secara lisan.
Metode ini dalam menyampaikan materi kepada peserta didik dilaksanakan secara lisan.
2. Metode Demonstrasi.
Demontrasi merupakan metode yang digunakan untuk membelajarkan peserta didik dengan menceritakan dan memperagakan suatu langkah-langkah pengerjaan sesuatu. demonstrasi merupakan praktek yang diperagakan kepada peserta.
Demontrasi merupakan metode yang digunakan untuk membelajarkan peserta didik dengan menceritakan dan memperagakan suatu langkah-langkah pengerjaan sesuatu. demonstrasi merupakan praktek yang diperagakan kepada peserta.
3.
Metode Diskusi.
Metode diskusi
digunakan untuk menumbuhkan interaksi antar siswa maupun antara siswa dengan
guru. Metode ini juga digunakan untuk memberikan pengalaman kepada siswa agar
terbiasa berbicara diforum, mendidik siswa agar dapat menghargai pendapat orang
lain. Metode diskusi ada yang membagi menjadi dua yaitu diskusi kelompok dan
diskusi kelas.
4. Metode Simulasi.
Metode ini menampilkan simbol-simbol,
atau peralatan yang menggantikan proses, kejadian, atau benda yang sebenarnya,
siswa dapat melakukan seperti keadaan sebenarnya, tetapi bukan proses, kejadian
atau benda yang sebenarnya. Pada intinya metode ini memindahkan situasi yang
nyata kedalam kegiatan atau ruang belajar karena adanya kesulitan untuk
melakukan praktek dalam situasi yang sebenarnya.
Pada konsep pembelajaran PJOK sebenarnya penerapan pendekatan scientifik telah lama diterapkan, jika mengacu pada model-model pembelajaran menurut Muska Mosston, terutama selain model komando. Karena sekian banyak pemahaman guru PJOK masih mengutamakan tujuan keterampilan olahraga (prestasi), sehingga nilai-nilai pendidikan yang lebih utama sering dikesampingkan. Hal ini yang mengakibatkan kompetensi Inti (Religius, Sikap, Pengetahuan dan Keterampilan) lebih didominasi pada keterampilan semata yang kurang memperhatikan ranah sikap dan pengetahuan khususnya dasar-dasar kualitas gerak.
Berikut diuraikan pendekatan scientific dalam pembelajaran PJOK sebagai dasar dalam pelaksanaan dalam Kurikulum 2013, diharapkan akan menjadikan peserta didik lebih berkembang kecerdasan majemuknya.
a. Pengertian Pendekatan Scientific
Kurikulum 2013 menekankan penerapan pendekatan ilmiah atau scientific approach pada proses pembelajaran. Pendekatan ilmiah (scientific approach)
dalam pembelajaran sebagaimana dimaksud dalam permendikbud no 81A tahun 2013
meliputi; mengamati, menanya, mengumpulkan informasi/mencoba, mengasosiasi,
mengomunikasikan.
Proses pembelajaran harus menyentuh tiga ranah, yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Dalam proses pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah, ranah sikap menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang ‘mengapa’. ranah keterampilan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang ‘bagaimana’. ranah pengetahuan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang‘apa’.
Hasil akhirnya adalah peningkatan dan keseimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusia yang baik (soft skills) dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skills) dari peserta didik yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan.
Pendekatan ilmiah dalam pembelajaran penjasorkes dapat disajikan seperti berikut ini:
1. Mengamati
Mengamati adalah proses mengenal objek melalui penggunaan indra yang dimiliki, misalnyadengan melihat/menonton, mendengarkan, dan membaca. Sehingga peserta didik akan memperoleh konsep awal dan menemukan permasalahan-permasalahan dalam materi yang akan dipelajari. Proses ini juga menyebabkan peserta didik memahami obyek secara nyata, senang, tertantang, dan memudahkan pelaksanaan proses pembelajaran selanjutnya.
Contoh kegiatan mengamati dalam pembelajaran materi pokok sepak bola:
Kurikulum 2013 menekankan penerapan pendekatan ilmiah atau scientific approach pada proses pembelajaran. Pendekatan ilmiah (scientific
Proses pembelajaran harus menyentuh tiga ranah, yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Dalam proses pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah, ranah sikap menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang ‘mengapa’. ranah keterampilan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang ‘bagaimana’. ranah pengetahuan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang‘apa’.
Hasil akhirnya adalah peningkatan dan keseimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusia yang baik (soft skills) dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skills) dari peserta didik yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan.
Pendekatan ilmiah dalam pembelajaran penjasorkes dapat disajikan seperti berikut ini:
1. Mengamati
Mengamati adalah proses mengenal objek melalui penggunaan indra yang dimiliki, misalnyadengan melihat/menonton, mendengarkan, dan membaca. Sehingga peserta didik akan memperoleh konsep awal dan menemukan permasalahan-permasalahan dalam materi yang akan dipelajari. Proses ini juga menyebabkan peserta didik memahami obyek secara nyata, senang, tertantang, dan memudahkan pelaksanaan proses pembelajaran selanjutnya.
Contoh kegiatan mengamati dalam pembelajaran materi pokok sepak bola:
· Mencari dan membaca informasi variasi
dan kombinasi teknik teknik permainan sepak bola (mengumpan, mengontrol,
menggiring, posisi, dan menembak bola ke gawang) dari berbagai sumber media
cetak atau elektronik. Proses pengamatan ini dapat dilakukan sebelum atau sesudah
pembelajaran.
· Mengamati pertandingan sepak bola secara
langsung dan atau di TV/Video dan membuat catatan tentang variasi dan kombinasi
teknik dasar (mengumpan, mengontrol, menggiring, dan menembak bola ke gawang)
dan membuat catatan hasil pengamatan, atau
· Bermain sepak bola dan yang lainnya
mengamati pertandingan tersebut, dan membuat catatan tentang kekuatan dan
kelemahan variasi dan kombinasi (mengumpan, mengontrol, menggiring, posisi, dan
menembak bola ke gawang) yang dilakukan oleh temannya selama bermain
2. Menanya
Pada proses ini guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengungkapkan berbagai masalah yang ditemukan pada saat proses pengamatan dengan berbagai bentuk pertanyaan baik yang berkaitan dengan sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan kompetensi yang akan diraihnya.
Contoh kegiatan menanya dalam pemainan sepakbola:
2. Menanya
Pada proses ini guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengungkapkan berbagai masalah yang ditemukan pada saat proses pengamatan dengan berbagai bentuk pertanyaan baik yang berkaitan dengan sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan kompetensi yang akan diraihnya.
Contoh kegiatan menanya dalam pemainan sepakbola:
· Pertanyaan yang berhubungan dengan
afektif: bagaimana jalannya permainan sepakbola bila tidak didukung oleh
kerjasama team?
· Pertanyaan yang berhubungan dengan
keterampilan: bagaimana jalannya bola jika titik perkenaan bola dengan kaki
dirubah (bawah, tengah dan atas bola)?”, apakah jarak titik tumpu berpengaruh
terhadap kekuatan menendang bola?, berapakah kekuatan di transfer ke bola
sehingga bola sampai pada jarak yang diinginkan?.
· Pertanyaan yang berhubungan dengan
kognitif: apa manfaat permainan sepak bola terhadap kesehatan dan otot-otot
yang dominan yang dipergunakan dalam permainan sepak bola?
3. Mengumpulkan informasi/eksperimen
Kegiatan mengumpulkan informasi/eksperimen ini merupakan bagian dari kegiatan eksplorasi yaitu untuk mencari jawaban terhadap pertanyaan terkait dengan pengembangan kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Contoh kegiatan eksperimen dalam pemainan sepakbola:
3. Mengumpulkan informasi/eksperimen
Kegiatan mengumpulkan informasi/eksperimen ini merupakan bagian dari kegiatan eksplorasi yaitu untuk mencari jawaban terhadap pertanyaan terkait dengan pengembangan kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Contoh kegiatan eksperimen dalam pemainan sepakbola:
· Mengeksperimenkan bermain sepak bola
tanpa kerjasama tim
· Mengeksperimenkan cara menendang dengan
merubah titik perkenaan kaki dengan bola secara individual, berpasangan
atau berkelompok dalam posisi di tempat dan sambil bergerak dasar fundamental
dengan menunjukkan nilai disiplin, menghargai perbedaan, dan kerjasama.
4. Mengasosiasi/menalar
Menalar adalah proses berfikir yang logis dan sistematis atas fakta-kata empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan. Istilah menalar dalam pembelajaran merujuk pada kemampuan mengelompokkan beragam ide dan beragam peristiwa untuk kemudian dijadikan sebagai dasar pembuatan keputusan.
Contoh kegiatan menalar dalam pemainan sepakbola:
4. Mengasosiasi/menalar
Menalar adalah proses berfikir yang logis dan sistematis atas fakta-kata empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan. Istilah menalar dalam pembelajaran merujuk pada kemampuan mengelompokkan beragam ide dan beragam peristiwa untuk kemudian dijadikan sebagai dasar pembuatan keputusan.
Contoh kegiatan menalar dalam pemainan sepakbola:
· Mencari hubungan antara titik perkenaan
bola dengan kaki dikaitkan dengan arah gerak bola sehingga mampu memilih
alternatif terbaik.
· Mencari hubungan antara jenis tendangan
dengan sasaran yang hendak dicapai sehingga mampu memilih alternatif terbaik.
· Mencari hubungan antara permainan sepak
bola dengan kesehatan dan kebugaran tubuh.
5. Mengomunikasikan
Mengomunikasikan adalah proses penyajian berbagai sikap, pengetahuan, dan keterampilan dalam bentuk penyampaian informasi, peragaan keterampilan, dan sikap dalam pembelajaran atau kehidupan. Contoh kegiatan mengomunikasikan dalam pemainan sepakbola:
Melakukan permainan sepak bola dengan menggunakan peraturan yang dimodifikasi dengan menerapkan gerak dasar fundamental permainan sepak bola (mengumpan, menghentikan, dan menggiring) serta menunjukkan sikap sportif, kerjasama, bertanggung jawab, menghargai perbedaan, disiplin, dan toleransi selama bermain.
5. Mengomunikasikan
Mengomunikasikan adalah proses penyajian berbagai sikap, pengetahuan, dan keterampilan dalam bentuk penyampaian informasi, peragaan keterampilan, dan sikap dalam pembelajaran atau kehidupan. Contoh kegiatan mengomunikasikan dalam pemainan sepakbola:
Melakukan permainan sepak bola dengan menggunakan peraturan yang dimodifikasi dengan menerapkan gerak dasar fundamental permainan sepak bola (mengumpan, menghentikan, dan menggiring) serta menunjukkan sikap sportif, kerjasama, bertanggung jawab, menghargai perbedaan, disiplin, dan toleransi selama bermain.
E. PEMURNIAN
OLAHRAGA
Pemurnian olahraga dimulai dari PJOK di sekolah. Nilai-nilai yang terkandung di dalam PJOK diterapkan sejak di lingkungan sekolah, agar olahraga di Indonesia dapat berkembang dan dipandang di Nasional, Asia maupun di Panca Negara. Sistem yang diterapkan di sekolah menjadi harapan untuk perkembangan olahraga. Namun banyak sekali hal yang harus di hindari untuk pemurnian olahraga di negara. Seperti unsur politik, unsur bisnis, unsur alat negara, unsur pembinaan prestasi dan pemetaan.
Pemurnian olahraga dimulai dari PJOK di sekolah. Nilai-nilai yang terkandung di dalam PJOK diterapkan sejak di lingkungan sekolah, agar olahraga di Indonesia dapat berkembang dan dipandang di Nasional, Asia maupun di Panca Negara. Sistem yang diterapkan di sekolah menjadi harapan untuk perkembangan olahraga. Namun banyak sekali hal yang harus di hindari untuk pemurnian olahraga di negara. Seperti unsur politik, unsur bisnis, unsur alat negara, unsur pembinaan prestasi dan pemetaan.
Olahraga sekarang ini banyak sekali
dicampur tangani
dengan unsur politik yang berpengaruh besar terhadap perkembangan olahraga.
Aristoteles melihat politik sebagai kecenderungan alami dan tidak dapat
dihindari manusia, misalnya ketika ia mencoba untuk menentukan posisinya dalam
masyarakat, ketika ia berusaha meraih kesejahteraan pribadi, dan ketika ia
berupaya memengaruhi orang lain agar menerima pandangannya. Aristoteles
berkesimpulan bahwa usaha memaksimalkan kemampuan individu dan mencapai bentuk
kehidupan sosial yang tinggi adalah melalui interaksi politik dengan orang
lain. Interaksi itu terjadi di dalam suatu kelembagaan yang dirancang untuk
memecahkan konflik sosial dan membentuk tujuan negara.
Dengan demikian kata politik
menunjukkan suatu aspek kehidupan, yaitu kehidupan politik yang lazim dimaknai
sebagai kehidupan yang menyangkut segi-segi kekuasaan dengan unsur-unsur:
negara (state), kekuasaan (power), pengambilan keputusan (decision making),
kebijakan (policy, beleid), dan pembagian (distribution) atau alokasi
(allocation).
Pada umumnya dapat dikatakan bahwa
politik (politics) adalah bermacam-macam kegiatan dalam suatu sistem politik
(atau negara) yang menyangkut proses menentukan tujuan-tujuan dari sistem itu
dan melaksanakan tujuan-tujuan itu. Pengambilan keputusan (decision making)
mengenai apakah yang menjadi tujuan dari sistem politik itu menyangkut seleksi
terhadap beberapa alternatif dan penyusunan skala prioritas dari tujuan-tujuan
yang telah dipilih. Sedangkan untuk melaksanakan tujuan-tujuan itu perlu
ditentukan kebijakan-kebijakan umum (public policies) yang menyangkut
pengaturan dan pembagian (distribution) atau alokasi (allocation) dari
sumber-sumber (resources) yang ada.
Untuk bisa berperan aktif
melaksanakan kebijakan-kebijakan itu, perlu dimiliki kekuasaan (power) dan
kewenangan (authority) yang akan digunakan baik untuk membina kerjasama maupun
untuk menyelesaikan konflik yang mungkin timbul dalam proses itu. Cara-cara
yang digunakan dapat bersifat meyakinkan (persuasive) dan jika perlu bersifat
paksaan (coercion). Tanpa unsur paksaan, kebijakan itu hanya merupakan
perumusan keinginan (statement of intent) belaka.
Politik merupakan upaya atau cara
untuk memperoleh sesuatu yang dikehendaki. Namun banyak pula yang beranggapan
bahwa politik tidak hanya berkisar di lingkungan kekuasaan negara atau
tindakan-tindakan yang dilaksanakan oleh penguasa negara. Dalam beberapa aspek
kehidupan, manusia sering melakukan tindakan politik, baik politik dagang,
budaya, sosial, maupun dalam aspek kehidupan lainnya. Demikianlah politik
selalu menyangkut tujuan-tujuan dari seluruh masyarakat (public goals) dan
bukan tujuan pribadi seseorang (private goals). Politik menyangkut kegiatan
berbagai kelompok, termasuk partai politik dan kegiatan-kegiatan perseorangan (individu).
BAB II
PENUTUP
KESIMPULAN
PENUTUP
KESIMPULAN
Pendidikan jasmani,
olahraga, dan kesehatan (PJOK) merupakan bagian integral dari pendidikan secara
keseluruhan yang bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani,
keterampilan gerak, keterampilan berpikir kritis, keterampilan sosial,
penalaran, stabilitas emosional, tindakan moral, aspek pola hidup sehat dan
pengenalan lingkungan bersih melalui aktivitas jasmani, olahraga dan kesehatan
terpilih yang direncanakan secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan
pendidikan nasional.
DAFTAR PUSTAKA
Clarence, H. Benson. 1980. Teknik Mengajar. Malang: Gandum
Mas.
Suharsimi, Arikunto. 1992. Pengelolaan Kelas dan Siswa.
Jakarta: CV Rajawali
Syarifudin. 1997. Pokok-pokok Pengembangan Pembelajaran Pendidikan
Jasmani. Jakarta: Pusat Perbukuan.
Usman, Moh. Uzer. 1992. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya.
Artiii
BalasHapus