PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Beberapa istilah yang
sering digunakan pada studi tentang gerak manusia (human movement). Istilah tersebut adalah ilmu gerak, kinesiologi, performance manusia, dan pendidikan
jasmani. Istilah-istilah ini sering terdengar apabila diperbincangkan hal hal
yang mencakup konteks gerak.
Kinesiologi adalah ilmu yang mempelajari keadaan fisik dan
mental manusia. Dari kinesiologi kita tahu bahwa ketika kita berbohong, atau
menghadapi kebohongan, bahkan ketika kita berada dalam suatu lingkungan di mana
kebohongan sedang terjadi atau di mana kebohongan dibenarkan, otot-otot kita
melemah. Khususnya otot-otot lengan dapat dideteksi secara mudah dengan cara
tertentu. Otot-otot yang melemah ini kemudian membuat seluruh badan kita
melemah, jiwa kita juga ikut melemah karena ia tidak dapat berfungsi,
sebagaimana semestinya; bahkan mengekspresikan diri pun tidak Kinesiologi
berasal dari kata “kinein” yang berarti “bergerak” dan “logos” yang
berarti “membicarakan”. Dasar pengkajian atau pembicaraan yang dipakai adalah
bahwa tubuh manusia dipandang sebagai mesin yang melakukan suatu pekerjaan
dalam sehari-hari. Karenanya pengetahuan tentang mekanika harus dimengerti
betul-betul.
Secara garis besar kinesiologi
terapan dapat disusun sebagai berikut :
- Terapan pada sikap tubuh
- Terapan pada gerakan dan
penampilan gerak
- Terapan pada kesegaran jasmani
- Terapan pada penanggulangn
cedera (Moerjono. Ilmu Gerak Terapan. 16 September 1978).
- Terapan pada keterampilan gerak
- Terapan pada penanggulangn
cedera (Moerjono. Ilmu Gerak Terapan. 16 September 1978).
Kinetik adalah ilmu gerak (kinetics)
Kinesiologia (kinesiology = the anatomy of movement) adalah ilmu
yang mempelajari gerakan secara ilmiah (the scientific study of movement).
Kinesiologia generalis adalah bagian dari kinesiologia yang mempelajari gerak
pada umumnya. Dalam melakukan gerakan, maka acuan yang digunakan adalah
sikap anatomik (position anatomica –
anatomical position) yaitu suatu sikap atau posisi ketika seseorang :
1. Berdiri tegak, kedua lengan di sisi
tubuh dengan telapak tangan menghadap ke depan;
2. Kaki berdampingan dengan ibu jari
menunjuk ke depan; dan
3. pandangan lurus ke depan melalui
bidang khayalan.
Berdasarkan sikap anatomik di atas
(acuan) ini dapatlah dinyatakan bahwa kinesiology generalis mengenai
gerakan-gerakan pada persendian secara umum, seperti (a) gerakan yang paling
sederhana berupa gerak menggelincir/menggeser (gliding movement), (b) gerakan yang memperkecil atau memperbesar
sudut yang terbentuk di antara tulang/bagian tubuh yang bergerak (angular movement), (c) gerakan
rangka/bagian tubuh mengelilingi suatu bentuk kerucut khayalan, puncak kerucut
terdapat di tengah-tengah sendi sedangkan alas kerucut dibentuk oleh ujung
distal rangka/ bagian tubuh yang digerakkan (circumduction), dan (d) gerakan rangka/bagian tubuh mengelilingi
sumbu longitudinal, baik sumbu longitudinal rangka/bagian tubuh yang digerakkan
maupun sumbu longitudinal yang berimpit atau sejajar dengannya/rotation
(Napitupulu. Jurnal Pendidikan Penabur – No.09/Tahun ke-6/Desember 2007).
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa
hakikat dari Physical Activity?
2. Apa
hakikat dari Kinesiologi?
PEMBAHASAN
A.
Hakikat
Physical Activity
Physical
Activity (aktivitas fisik) adalah setiap gerakan
tubuh yang dihasilkan oleh otot rangka yang memerlukan pengeluaran energi.
Aktivitas fisik yang tidak ada (kurangnya aktivitas fisik) merupakan faktor
risiko independen untuk penyakit kronis, dan secara keseluruhan diperkirakan
menyebabkan kematian secara global (WHO, 2010; Physical Activity. In Guide
to Community Preventive Services Web site, 2008).
1.
Manfaat Aktivitas Fisik
terhadap Kesehatan
Aktivitas fisik
secara teratur memiliki efek yang menguntungkan terhadap kesehatan yaitu :
a) Terhindar
dari penyakit jantung, stroke, osteoporosis, kanker, tekanan darah tinggi,
kencing manis, dan lain-lain.
b) Berat
badan terkendali
c) Otot
lebih lentur dan tulang lebih kuat
d) Bentuk
tubuh menjadi ideal dan proporsional
e) Lebih
percaya diri
f) Lebih
bertenaga dan bugar
2.
Tipe Aktifitas fisik
Ada 3
tipe/macam/sifat aktivitas fisik yang dapat kita lakukan untuk mempertahankan
kesehatan tubuh yaitu :
a) Ketahanan
(endurance)
Aktivitas fisik
yang bersifat untuk ketahanan, dapat
membantu jantung, paru-paru, otot, dan sistem sirkulasi darah tetap sehat dan
membuat kita lebih bertenaga. Untuk mendapatkan ketahanan maka aktivitas fisik
yang dilakukan selama 30 menit (4-7 hari per minggu).
Contoh beberapa
kegiatan yang dapat dipilih seperti:
-
Berjalan kaki, misalnya
turunlah dari bus lebih awal menuju tempat kerja kira-kira menghabiskan 20
menit berjalan kaki dan saat pulang berhenti di halte yang menghabiskan 10 menit
berjalan kaki menuju rumah
-
Lari ringan
-
Berenang
-
Senam
-
Bermain tenis
-
Berkebun dan kerja di
taman.
b) Kelenturan
(flexibility)
Aktivitas fisik
yang bersifat untuk kelenturan dapat membantu pergerakan lebih mudah,
mempertahankan otot tubuh tetap lemas (lentur) dan sendi berfungsi dengan baik.
Untuk mendapatkan kelenturan maka aktivitas fisik yang dilakukan selama 30
menit (4-7 hari per minggu).
Contoh beberapa
kegiatan yang dapat dipilih seperti:
-
Peregangan, mulai
dengan perlahan-lahan tanpa kekuatan atau sentakan, lakukan secara teratur untuk 10-30 detik, bisa mulai dari tangan dan
kaki
-
Senam taichi, yoga
-
Mencuci pakaian, mobil
-
Mengepel lantai.
c) Kekuatan
(strength)
Aktifitas fisik
yang bersifat untuk kekuatan dapat membantu
kerja otot tubuh dalam menahan sesuatu beban yang diterima, tulang tetap
kuat, dan mempertahankan bentuk tubuh serta
membantu meningkatkan pencegahan terhadap penyakit seperti osteoporosis.
Untuk mendapatkan kelenturan maka aktivitas fisik yang dilakukan selama 30
menit (2-4 hari per minggu).
Contoh beberapa
kegiatan yang dapat dipilih eperti:
-
Push-up, pelajari
teknik yang benar untuk mencegah otot dan sendi dari kecelakaan
-
Naik turun tangga
-
Angkat berat/beban
-
Membawa belanjaan
-
Mengikuti kelas senam
terstruktur dan terukur (fitness) (Pusat
Promosi Kesehatan Departemen Kesehatan RI 2006).
B.
Hakikat
Kinesiologi
Ada berbagai macam definisi atau
pengertian tentang kinesiologi. Terdapat beberapa definisi yang diambil oleh
berbagai sumber, antara lain adalah sebagai berikut : Kinesiologi, berasal dari
kata Yunani kinesis (gerakan) dan kinein (untuk pindah), juga dikenal sebagai
kinetika manusia, adalah ilmu tentang gerakan manusia. Ini adalah disiplin yang
memfokuskan pada Aktivitas Fisik. Kinesiologi berasal dari kata kines dan logos, kines adalah gerak
sedangkan logos berati ilmu, jadi kinesiologi adalah ilmu yang mempelajari
tentang gerak, khususnya gerak pada manusia.
Kinesiologi adalah ilmu yang
mempelajari gerak atau the science human
movement yang diaplikasikan dan menjelaskan tentang gerak tubuh manusia
kemudian ilmu ini dapat diaplikasikan terhadap prinsip-prinsip mekanik dalam
gerak manusia yang disebut biomekanika atau biomekanik kinesiology sedangkan
aplikasi anatomi dalam gerak manusia disebut anatomi kinesiologi. Sehingga
secara sederhana kinesiologi adalah mekanika pergerakan manusia (mechanics of human movement).
Dasar pengkajian atau pembicaraan
yang dipakai adalah bahwa tubuh manusia dipandang sebagai mesin yang melakukan
suatu pekerjaan dalam sehari-hari. Karenanya pengetahuan tentang mekanika harus
dimengerti betul-betul. Kinesiologi bekerja di penelitian, industri kebugaran,
secara klinis , dan di lingkungan industri. Karenanya tepatlah bila kinesiologi
dinyatakan sebagai ilmu paduan dari berbagai cabang ilmu yaitu Ilmu Urai, Ilmu
Faal, Biokimia dan Mekanik.
Bertolak dari pengetahuan Ilmu Urai.
khususnya tentang sistem alat gerak, maka penerapan dasar mekanik tercermin
pada bagaimana sikap tubuh, cara jalan seseorang, cara penggunaan alat-alat
rumah- tangga maupun alat-alat olah raga dan sebagainya. Walaupun pada
waktu ini psycholoog. psychiater dan psyehoanalis sangat berkenan pada
penelitian aspek Psychosomatik dari kinesiologi dan memperbincangkan tentang
“mengapa” manusia bergerak, tidak jarang pula adanya perenung yang merenungkan
bahwa memang tepatlah apa yang dikatakan oleh nenek-moyang kita yaitu bahwa
manusia dapat bergerak secara teratur, berjalan secara anggun dan mempunyai
kemampuan penyesuaian dengan lingkungan; semua ini adalah karunia Tuhan Pencipta
Alam Tetapi janganlah salah sangka, sebab kinesiologi bukanlah suatu studi
untuk menikmati karunia Tuhan. Kinesiologi terapan banyak dijumpai pada bidang
kedokteran dan bidang olahraga serta pelaksanaan penyembuhan fisik dan
rehabilitas serta bidang seni tari.
1.
Sejarah Kinesiologi
Perkembangan
kinesiologi terjadi hampir bersamaan dengan perkembangan ilmu induknya yaitu
Anatomi. Pada tahun 384 – 322 SM dimulailah penulisan tentang bekerjanya
otot-otot yang di arahkan pada analisa geometrik. Orang yang pertama-tama
melakukan penyelidikan adalah Aristoteles yang sekarang dikenal sebagai bapak
kinesiologi. Observasi yang dilakukannya menghasilkan ingatan, bahwa hewan yang
bergerak mengadakan perubahan letak dengan jalan menekan kakinya pada apa yang
diinjak, Ia pula yang pertama-tama menganalisa dan menulis tentang adanya
proses yang begitu komplek pada cara jalan manusia, dimana ternyata terdiri
atas gerakan berputar (rotasi) yang selanjutnya dirobah menjadi gerak lurus
(translatasi). Peranan gaya-berat (gravitasi), hukum gerakan dan pengertian
tentang pengumpil mulai dibicarakan. Dari urian diatas dapat dilihat adanya
kenyataan, bahwa seorang pelompat jauh akan dapat melompat lebih jauh lagi
dengan membawa beban pada kedua tangannya bila dibandingkan dengan yang tanpa
membawa beban. Seorang pelari akan lebih cepat larinya, bila ia mengayunkan
lengannya, karena dengan demikian terjadi extensi lengan yang sakan-akan dapat
menjadi sandaran terhadap tangan dan pergelangannya.
Pada tahun itu pula
Archimedes memberikan andilnya dengan prinsip hydrostatikanya. yang sampai
sekarang masih dipakai dalam kinesiologi renang dan perjalanan ruang angkasa.
Setelah itu Galen dalam karangannya “De Motu Musculorum” mengajukan pengertian tentang adanya otot-otot agonis dan antagonis dan mulai pula dipakai kata-kata “diarthrosis” dan “sinarthrosis” pada sistem persendian.
Setelah itu Galen dalam karangannya “De Motu Musculorum” mengajukan pengertian tentang adanya otot-otot agonis dan antagonis dan mulai pula dipakai kata-kata “diarthrosis” dan “sinarthrosis” pada sistem persendian.
Sesudah Galen
perkembangan kinesiologi menjadi statis dan baru pada tahun 1452-1519 Leonardo
da Vinci membangkitkan kembali dengan memberikan perhatiannya pada struktur
tubuh manusia yang dihubungkan dengan penampilan atau peragaannya, dan hubungan
antara pusat gravitasi dan keseimbangan tubuh serta pusat tumpuannya.
Alfonco Borelli pada tahun 1608 – 1679 mulai menggunakan formula matematika untuk memecahkan problema gerakan otot dan mulai mengadakan pembedaan antara berbagai macam kontraksi otot serta mengemukakan dasar-dasar innervasi resiprok. Karena pengkajiannya yang mendalam tentang problema gerakan tadi, maka feindler (ahli kinesiologi masa kini) menyebutnya sebagai “Bapak Kinesiologi modern dalam sistem lokomotor.” Konsep Borelli ini dikembangkan oleh Webers pada tahun 1836. Uraiannya didasarkan atas adanya observasi yang menyatakan bahwa sikap tegak tubuh disebabkan oleh adanya tegangan pada ligament dan hanya sedikit saja atau tidak adanya kerja otot sedangkan pada berjalan atau lari maka gerakan ke depan dari tungkai merupakan ayunan bandul yang disebabkan oleh adanya gravitasi. Keadaan ini menyebabkan gerakan jatuh ke depan dari badan yang selanjutnya disalurkan ke tungkai. Webers pula yang menyatakan, bahwa panjang otot akan berkurang pada waktu kontraksi dan tulang berperan sebagai pengumpil.
Isaac Newton pada tahun 1642 – 1727 memberikan dasar-dasar dinamika modern yang ternyata sangat penting artinya bagi perkembangan Kinesiologi. Dasar ini tertuang dalam “Hukum Newton”.
Alfonco Borelli pada tahun 1608 – 1679 mulai menggunakan formula matematika untuk memecahkan problema gerakan otot dan mulai mengadakan pembedaan antara berbagai macam kontraksi otot serta mengemukakan dasar-dasar innervasi resiprok. Karena pengkajiannya yang mendalam tentang problema gerakan tadi, maka feindler (ahli kinesiologi masa kini) menyebutnya sebagai “Bapak Kinesiologi modern dalam sistem lokomotor.” Konsep Borelli ini dikembangkan oleh Webers pada tahun 1836. Uraiannya didasarkan atas adanya observasi yang menyatakan bahwa sikap tegak tubuh disebabkan oleh adanya tegangan pada ligament dan hanya sedikit saja atau tidak adanya kerja otot sedangkan pada berjalan atau lari maka gerakan ke depan dari tungkai merupakan ayunan bandul yang disebabkan oleh adanya gravitasi. Keadaan ini menyebabkan gerakan jatuh ke depan dari badan yang selanjutnya disalurkan ke tungkai. Webers pula yang menyatakan, bahwa panjang otot akan berkurang pada waktu kontraksi dan tulang berperan sebagai pengumpil.
Isaac Newton pada tahun 1642 – 1727 memberikan dasar-dasar dinamika modern yang ternyata sangat penting artinya bagi perkembangan Kinesiologi. Dasar ini tertuang dalam “Hukum Newton”.
Mulai tahun 1861 – 1917
dengan adanya perkembangan teknik fotografi Otto Fischer mengadakan studi
eksperimental tentang cara manusia berjalan.
Rudolf A.Fick sekitar tahun itu pula meneliti tentang sikap (postur) manusia dan mekanik gerakan sendi.
Rudolf A.Fick sekitar tahun itu pula meneliti tentang sikap (postur) manusia dan mekanik gerakan sendi.
Kari Culmann 1821 –
1S81 seorang insinyur Jerman mengadakan analisa yang menghasilkan teori
trakyektori untuk arsitektur tulang. Sejalan dengan kemajuan teknologi, maka
sejak tahun 1912 telah dipakai alat-alat elektromyograf. cinematograf dan
sekarang dengan elektronik stroboskop yang dapat mengambil gambaran dengan
kecepatan l juta sekon yang merupakan alat pada dewasa ini yang sewajarnya
dipakai dalam pendidikan olahraga. Selain pemakaian alat-alat baru tersebut
diatas ternyata terjadi pula perubahan dalam pemikiran tentang bergeraknya
manusia. Teori stimulus-respons yang dianut sebelumnya telah ditinggalkan dan
diganti dengan mekanisme servo maupun mekanisme umpan-balik (feedback).
Pada beberapa tahun
sesudah perang dunia ke II berakhir, kecuali terlihat adanya perkembangan
teknologi mulai terjadi pula adanya pendekatan-pendekatan secara
multidisipliner antara ahli-ahli faal. Anatomi, psikolog, teknik dan
lain-lainnya, yang pada akhirnya berhasil membuahkan suatu ilmu baru yang
sebetulnya merupakan saudara kembar dari Kinesiologi.
2.
Wilayah Kajian Ilmu Keolahragaan
Wilayah kajian ilmu keolahragaan
mencakup spektrum aktifitas jasmani yang cukup luas, meliputi; bermain (play),
berolahraga (sport), pendidikan jasmani dan kesehatan (physical
education and leissure), dan tari (dance).
a)
Bermain
Bermain merupakan dorongan naluri,
fitrah manusia, dan pada anak merupakan keniscayaan sosiologis dan biologis.
Ciri lain yang amat mendasar yakni kegiatan itu dilakukan secara suka rela,
tanpa paksaan, dalam waktu luang. Didalamnya juga terkandung nilai pendidikan
sehingga perlu dimanfaatkan sebagai upaya menuju pendewasaan melalui pemberian
rangsangan yang bersifat menyeluruh, meliputi aspek fisik, mental, sosial, dan
moral yang berguna pada pencapaian pertumbuhan dan perkembangan secara normal
dan wajar. Dari tujuannya inilah yang membedakan aktivitas antara bermain
dan bekerja.
b)
Olahraga
Istilah olahraga yang digunakan
disini merupakan sebuah istilah generik, sehingga pengertian tidak terbatas
pada pengertian sempit olahraga prestasi-kompetitif-elit untuk segelintir
individu berkemampuan super yang pelaksanaannya dikelola secara formal seperti
biasa dijumpai dalam cabang-cabang olahraga resmi, tetapi juga jenis-jenis
aktivitas jasmani lainnya yang bersifat informal dan kegiatan dan tujuannya
dapat diidentifikasi sebagai berikut:
- Olahraga pendidikan adalah proses pembinaan menekankan
penguasaan keterampilan dan ketangkasan berolahraga
nilai-nilai kependidikan melalui pembekalan pengalaman yang lengkap
sehingga yang terjadi adalah proses sosialisasi melalui dan ke
dalam olahraga;
- Olahraga kesehatan adalah jenis kegiatan olahraga yang
lebih menitik beratkan pada upaya mencapai tujuan kesehatan dan fittnes
yang tercakup dalam konsep well-being melalui kegiatan olahraga;
- Olahraga rekreatif adalah jenis kegiatan olahraga yang
menekankan pencapaian tujuan yang bersifat rekreatif atau manfaat dari
aspek jasmaniah dan sosial-psikologis;
- Olahraga rehabilitatif adalah jenis kegiatan olahraga,
atau latihan jasmani yang menekankan tujuan bersifat terapi atau aspek
psikis dan perilaku;
- Olahraga kompetitif adalah
jenis kegiatan olahraga yang menitik beratkan peragaan performa dan
pencapaian prestasi maksimal yang lazimnya dikelola oleh organisasi
olahraga formal, baik nasional maupun internasional.
Karena karakteristik olahraga
semakin kompleks, selain mengandung muatan bio
psiko-sosio-kultural-anthropologis juga muatan teknologi (techno-sport),
maka amat sukar untuk menegaskan sebuah batasan, namun demikian dapat
diidentifikasi ciri yang bersifat umum yaitu sebagai berikut:
- Olahraga merupakan subsistem
dari bermain: pelaksanaan secara suka rela tanpa paksaan;
- Olahraga berorientasi pada
dimensi fisikal: kegiatan itu merupakan peragaan keterampilan fisik;
- Olahraga merupakan kegiatan
riil, bukan ilusi atau imajinasi;
- Olahraga, terutama olahraga
kompetitif menekankan aspek performa dan prestasi sehingga didalamnya
terlibat unsur perjuangan, kesungguhan, dan faktor surprise, sebagai lawan
dari faktor untung-untungan sehingga performa itu dicapai melalui usaha
pribadi;
- Olahraga berlangsung dalam
suasana hubungan sosial dan bersifat kemanusiaan, bukan membangkitkan
naluri rendah, dan bahkan justru membangun solidaritas;
- Olahraga harus bermuara pada
upaya untuk meningkatkan dan memelihara kesehatan total atau wellness.
c)
Pendidikan jasmani
Pendidikan jasmani adalah proses
sosialisasi melalui aktivitas jasmani, bermain dan/atau olahraga yang bersifat
selektif untuk mencapai tujuan pendidikan pada umumnya. Meskipun orientasi
pembinaan tertuju pada aspek jasmani, namun demikian seluruh skenario adegan
pergaulan yang bersifat mendidik juga tertuju pada aspek pengembangan kognitif
dan afektif sehingga pendidikan jasmani merupakan intervensi sistemik yang
bersifat total, mencakup pengembagan aspek fisik, mental, emosional, sosial,
dan moral-spritual. Nuansa-nuasa yang bersifat mendidik itu terjadi pada
anak-anak melalui pendekatan pedagogi dan juga pada orang dewasa melalui
pendekatan andragogi sehingga proses pendidikan dan sekaligus
pembentukan itu berlangsung melalui pendekatan agogik.
d) Pendidikan kesehatan
Pendidikan kesehatan adalah proses
pembinaan pola atau gaya hidup sehat sebagai keterpaduan pengetahuan, nilai
sikap dan perilaku nyata (action). Tujuan yang ingin dicapai adalah
kesehatan total, bukan dalam pengertian bebas dari cacat, tetapi sehat fisik,
mental dan sosial, seperti tercakup dalam konsep wellness. Antara sakit
dan sehat bukan sebagai sebuah dikhotomi, tetapi sehat bergerak dalam garis
kontinum sehingga fungsi dari pendidikan kesehatan adalah untuk meningkatkan
dan memelihara derajat kesehatan seseorang.
e)
Rekreasi
Rekreasi adalah satu bentuk kegiatan
suka rela dalam waktu luang, bukan aktivitas survival, yang diarahkan terutama
dalam bentuk rekreasi aktif berupa aktivitas jasmani atau kegiatan berolahraga.
Pelaksanaannya harus sesuai dengan norma dan etika masyarakat. Tujuan yang
ingin dicapai mencakup aspek pemulihan kelelahan, relaksasi, atau penanganan
stres untuk menggairahkan hidup agar lebih produktif melalui relativitas energi
dalam suasana kehidupan yang riang, tidak tertekan dan merasa bahagia,
disamping memperoleh pengakuan dari lingkungan sekitar melalui jalinan hubungan
sosial.
Batas-batas suatu kegiatan yang
bernuansa bermain, bekerja dan rekreasi sering merembes. Dalam suasana bekerja
bisa tembus nuansa bermain yang membangkitkan kegairahan, meskipun tidak akan
dikatakan dalam situasi bermain dan berekreasi masuk suasana bekerja.
f)
Tari (dance)
Tari menunjukkan fenomena peragaan
keterampilan ketangkasan, sehingga dari pengungkapan keterampilan gerak ia
masuk ke tapal batas kegiatan olahraga. Namun aktivitas jasmani tersebut lebih
bernuansa persyaratan seni atau faktor estetika, meskipun tidak dapat dibantah
bahwa olahraga banyak sekali dijumpai unsur-unsur seni dan keindahan.
3.
Model Orientasi Kurikulum dalam Pendidikan Jasmani
Persoalan konflik antar makna
pendidikan jasmani dan pendidikan olahraga perlu diselesaikan. Keduanya tidak
perlu dipertentangkan. Yang berbeda adalah dalam hal pemahaman. Keduanya
sebenarnya mengandung fungsi mendidik. Penyelenggaraan pendidikan jasmani bisa
berbeda karena berbeda dalam rancangan kurikulumnya. Di negara maju, pendidikan
jasmani dilaksanakan dengan berorientasi pada model-model kurikulum yang
berlaku. Model kurikulum inilah yang menentukan perbedaan tekanan terhadap
program yang dilaksanakan, apakah berorientasi pada peningkatan kesegaran
jasmani atau keterampilan gerak, misalnya. model kurikulum dalam pendidikan
jasmani adalah :
-
Pendidikan gerak (movement
education)
-
Pendidikan olahraga (sport
education)
-
Pendidikan petualangan (adventure
education)
-
Pendidikan perkembangan (developmental
education)
-
Pendidikan kebugaran (fitness
education)
-
Pendidikan disiplin keilmuan olahraga (kinesiological studies)
a)
Pendidikan Gerak
Pendidikan gerak (movement
education) menekankan pendidikan lewat gerak yang mula-mula dikem- bangkan oleh
Rudolph Laban di Inggris. Laban mengembangkan konsep-konsep gerak yang
berkaitan dengan ruang dan waktu sebagai bahan untuk pengembangan gerak-gerak
tari. Aliran Laban akhirnya dibawa ke Amerika Serikat dan diadopsi sebagai
program pendidikan jasmani.
Lewat pendidikan gerak, keterampilan
gerak anak dikembangkan melalui pelaksanaan yang bervariasi, dikaitkan dengan
ruang, waktu, arah serta tingkat ketinggian di mana gerakan dilakukan. Di sini
tidak ada istilah benar atau salah. Anak-anak akan lebih menguasai pergerakan
tubuhnya disertai pengertiannya. Dengan demikian diharapkan siswa menguasai
tubuhnya dan mampu mengembangkan kapasitas fisik dan mentalnya untuk belajar,
baik keterampilan fisik maupun keterampilan akademis. Model ini cocok
dikembangkan di SD.
b)
Pendidikan Olahraga
Ada kesalahpahaman bahwa pendidikan
jasmani sama dengan pendidikan olahraga. Keduanya berbeda, pendidikan jasmani
lebih menekankan pada pengembangan keterampilan motorik dasar dan memperkaya
perbendaharaan gerak. Pendidikan olahraga menekankan pada pembinaan
keterampilan berolahraga dan menghayati nilai-nilai yang diperoleh dari
kegiatan berlatih dan bertanding. Semua anak dibekali pengalaman nyata untuk
berperan dalam pembinaan olahraga, seperti wasit, atlet, atau pelatih. Dalam
arti itulah pendidikan olahraga di Amerika Serikat, misalnya, menyandang misi
kependidikan yang lengkap.
Jika program penjas di Indonesia
masih berwarna pendidikan olahraga seperti sekarang ini, maka kecenderungan ini
hanyalah masalah orientasi model kurikulum yang dianut seperti maksud di atas.
Sayangnya kecenderungan di Indonesia, penggunaan model ini tidak menyebabkan
anak dibekali dengan pengalaman berolahraga yang sebenarnya, karena programnya
amat terbatas.
c)
Pendidikan Perkembangan
Model pendidikan perkembangan
memfokuskan tujuan pendidikannya pada aktualisasi diri, yang menekankan
pertumbuhan pribadi dari setiap anak. Kurikulumnya dikembangkan berdasarkan
tingkat perkembangan anak, yang berusaha menyeimbangkan penekanan pada ranah
kognitif, afektif dan psikomotor.
d) Pendidikan Petualangan
Pendidikan petualangan (Adventure education) dikembangkan atas
dasar kebutuhan untuk mengatasi tekanan-tekanan hidup yang semakin berat.
Programnya berisi kegiatan yang menantang di alam bebas dan disesuaikan dengan
kebutuhan para remaja untuk bertualang mengatasi resiko dan perjuangan melawan
tantangan alam. Mendaki gunung, menyusuri sungai, berkemah, memanjat tebing,
dan variasi lain di alam terbuka merupakan contoh program pendidikan
petualangan.
e)
Pendidikan Kebugaran
Sekolah memang bisa menekankan
orientasinya pada pengembangan kebugaran murid-muridnya. Program pendidikan
jasmani seperti itu mengarahkan anak supaya aktif berlatih di sekolah dan di
luar sekolah untuk hidup sehat dan memiliki kemampuan fisik yang baik.
Pelaksanaan senam kebugaran jasmani (SKJ) merupakan contoh dari program
pendidikan kebugaran. Persoalannya adalah mungkin frekuensi dan isi latihannya
perlu ditingkatkan, karena hanya bersandar pada SKJ yang ada sekarang ini,
unsur kekuatan, kelentukan, serta power anak tidak akan berkembang maksimal.
f)
Kinesiological Studies
Model studi kinesiologi pada
hakikatnya hampir sama dengan model pendidikan gerak dalam orientasi nilainya,
tetapi menggunakan kegiatan gerak untuk mempelajari dasar-dasar disiplin gerak
manusia (misalnya fisiologi latihan, biomekanika, dan kinesiologi). Karena itu,
model ini pun disebut juga sebagai pendidikan disiplin keilmuan olahraga.
Penekanan pembelajaran model ini
adalah pada pengembangan keterampilan memecahkan masalah, khususnya dengan
menggunakan kombinasi antara pembelajaran konsep dan prakteknya di lapangan.
Tujuan utamanya adalah menumbuhkan dan mengembangkan pemahaman kognitif tentang
bagaimana dan mengapa suatu keterampilan gerak berlangsung demikian. Model ini
didasari dua pendekatan yang khas dalam studi kinesiologi, yaitu pendekatan
pertama, isi atau materi diatur dalam sebuah unit-unit kegiatan, dan
konsep-konsep disiplin utama diintegrasikan dengan pengajaran keterampilan;
pendekatan kedua, unit-unit kegiatan diatur di sekitar konsep-konsep khusus
yang menjadi prioritas di atas pengajaran keterampilan.
Pemakaian model ini umumnya dipilih
oleh guru-guru penjas di tingkat sekolah menengah. Meskipun banyak sekolah
menengah telah memasukkan satu atau dua unit konsep dalam kurikulumnya, khusus
dipadukan dengan sehat-bugar-jasmani, sedikit sekali sekolah yang hanya memakai
model kinesiologi secara tunggal. Tetapi tidak ada salahnya model inipun sudah
mulai diperkenalkan di SD dengan persoalan prinsip gerak yang disederhanakan.
4.
Arah Pengembangan Pembelajaran Pendidikan Jasmani Bagi Anak
Luar Biasa
Pendidikan jasmani untuk siswa
sekolah luar biasa dan siswa berkelainan telah menjadi prioritas dalam program
pendidikan nasional kita. Ini menunjukkan bahwa pemerintah telah menaruh
perhatian yang lebih besar kepada para penyandang kelainan, bukan saja yang
berada di lingkungan sekolah, tetapi yang berada di lingkungan pendidikan
non-formal lainnya.
Pada kenyataannya, para siswa
penyandang kelainan memiliki kebutuhan yang lebih besar akan gerak. Seperti
diakui oleh para ahli, justru pendidikan jasmani harus merupakan program utama
dari program pendidikan luar biasa secara keseluruhan, karena menjadi dasar
atau fimdasi bagi peningkatan fungsi tubuh yang sangat diperlukan oleh
anak-anak berkebutuhan khusus.
Guru pendidikan jasmani perlu
mengakui bahwa aspek psikologis dari situasi kelas sama dan bahkan lebih
penting daripada tujuan-tujuan substantif pendidikan jasmani. Di samping itu,
untuk mampu menjaga motivasi anak tetap tinggi, guru perlu memiliki cara-cara
yang kreatif dalam pengajaran. Guru pendidikan jasmani harus menanamkan pada
dirinya sendiri tujuan dan keinginan untuk membantu siswa dalam mengembangkan
citra diri positif, mengembangkan hubungan interpersonal yang efektif, memahami
dan menghargai kelebihan dan keterbatasan fisiknya, mengoreksi kondisi fisik
khusus yang masih mungkin diperbaiki, mengembangkan suatu kesadaran
keselamatan, dan menjadikan anak-anaknya bugar secara fisik sesuai dengan
kapasitasnya.
5.
Landasan Falsafah Pendidikan
Kebugaran Jasmani
Tujuan jangka panjang pendidikan jasmani adalah sebagi
berikut:
a)
Kegiatan tersebut dimaksudkan untuk menghasilkan insan yang
berpendidikan dan berpandangan bahwa aktivitas jasmani ini bernilai,
bermanfaat, dan dapat dilakukan di sepanjang hayat.
b)
Melalui proses pendidikan tersebut juga dihasilkan insan
yang dapat memahami bagaiman membuat rencana kegiatan dan melasanakannya, baik
untuk keperluan sendiri secara perorangan maupun keperluan kelompok.
c)
Untuk menghasilkan seseorang yang terampil menciptakan
peluang dan memanfaatkannya dalam rangka pembinaan kebugaran jasmani. Kemampuan
mengatasi stress dan hambatan juga menjadi tujuan akhir.
Bertitik tolak dari pandangan falsafah tersebut, sebagai
guru pendidikan jasmani perlu memahami kaidah pengembangan program pendidikan
jasmani yang seimbang. Adapun kaidah-kaidah yang dimaksud
adalah sebagai berikut :
a)
Penyediaan waktu yang cukup bagi anak untuk melalukan
aktivitas jasmani.
b)
Penyediaan kesempatan bagi setiap anak untuk memenuhi
kebutuhan secara perorangan yang memang berbeda-beda.
c)
Penyediaan aneka kegiatan dan memberikan bimbingan sesuai dengan
pilihan siswa.
d)
Pemberian informasi umpan balik kepada anak, baik mengenai
proses maupun hasilnya.
e)
Pembekalan siswa dengan keterampilan dasar termasuk
pengayaan keterampilan dalam rangka meningkatkan kebugaran jasmani.
f)
Menjadikan diri sebagai guru pendidikan jasmani yang pantas
sebagai panutan bagi siswa.
g)
Pemberian perhatian penuh bagi perkembangan anak secara
menyeluruh, termasuk sikap dan perlakuannya terhadap aktivitas jasmani yang
dilaksanakan secara teratur dan berkesinambungan.
h)
Penggunaan strategi yang tepat untuk membentuk pola hidup
sehat.
i)
Menggunakan gaya hidup aktif dan pelaksanaan aktivitas
jasmani di luar pendidikan jasmani disekolah.
j)
Menghindari ucapan yang menyatakan bahwa aktivitas jasmani
itu hanyalah membuang-buang waktu, dan sia-sia belaka.
6. Strategi Pengembangan
Penyiapan program yang dianggap bermutu, tidak akan berjalan
dengan sendirinya. Karena itu dibutuhkan strategi pengembangan yang mencakup
beberapa aspek sebagai berikut :
a)
Pengembangan program yang menekankan pada penyediaan
pengalaman jasmani yang disenangi di sepanjang hayat. Karena itu, misalnya,
latihan aerobic, stretching (perengangan otot), jalan kaki, tenis, dan berenang.
b)
Membantu siswa untuk menguasai keterampilan gerak dan
kembangkan penilaian diri positif bahwa ia dapat menguasai keterampilan itu.
Sebagai contoh, bagaimana melakukan pemanasan yang benar sebelum berlatih,
bagaimana melakukan stretching yang aman dan efektif; atau bagaimana memainkan
suatu cabang olahraga dengan memuaskan dan mendatangkan kesenangan.
c)
Memberikan kesempatan yang meluas dan merata sehingga semua
anak dengan kemampuan yang berbeda-beda dapat ikut serta; programnya jangan
sampai menjadi monopoli anak yang berbakat.
d)
Memberi tekanan pada program yang akan mendatangkan
maslahat, bukan hanya untuk kepentingan jasmani, seperti kebugaran, tetapi juga
untuk perkembangan sosial, dan keterampilan yang diperlukan untuk
mempertahankan gaya hidup aktif sepanjang hayat, keterampilan itu antara lain,
bagaimana mengukur kebugaran diri secara sederhana, megatasi masalah, dan
memotivasi diri.
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Physical Activity (aktivitas
fisik) adalah setiap gerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot rangka yang
memerlukan pengeluaran energi. Aktivitas fisik yang tidak ada (kurangnya
aktivitas fisik) merupakan faktor risiko independen untuk penyakit kronis, dan
secara keseluruhan diperkirakan menyebabkan kematian secara global.
Kinesiologi berasal dari kata kines dan logos, kines adalah gerak
sedangkan logos berati ilmu, jadi kinesiologi adalah ilmu yang mempelajari
tentang gerak, khususnya gerak pada manusia.
Wilayah kajian ilmu keolahragaan
mencakup spektrum aktifitas jasmani yang cukup luas, meliputi; bermain (play),
berolahraga (sport), pendidikan jasmani dan kesehatan (physical
education and leissure), dan tari (dance).
Model kurikulum dalam pendidikan
jasmani adalah :
-
Pendidikan gerak (movement
education)
-
Pendidikan olahraga (sport
education)
-
Pendidikan petualangan (adventure
education)
-
Pendidikan perkembangan (developmental
education)
-
Pendidikan kebugaran (fitness
education)
-
Pendidikan disiplin keilmuan olahraga (kinesiological studies)
B.
Saran
Diharapkan kepada semua
profesi yang berhubungan dengan kegiatan fisik (olahraga) sebaiknya memahami
ilmu kinesiologi dikarenakan semua jajaran dapat mengetahui seluruh kondisi
kesehatan organ tubuh, atau sistem organ dan metabolisme dalam tubuh, dapat
mengetahui kondisi imunitas/kekebalan tubuh dan seluruh gangguan alergi yang
dialami, dapat mengetahui keseimbangan vitamin dan mineral dalam tubuh, dapat
mengetahui keseimbangan hormonal tubuh, dapat mengetahui gangguan mental dan
emosional yang mengganggu kesehatan tubuh, serta dapat memabntu ketepatan
mendiagnosa dan terapi kasus kesakitan serta respon tubuh (cocok tidaknya
terhadap suatu perlakuan, zat, maupun obat.
DAFTAR
PUSTAKA
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/BAHAN%20AJAR%20KINESIOLOGI.pdf
http://pendidikanjasmani13.blogspot.com/2012/02/kinesiology-olahraga.html
https://tigisport.wordpress.com/tag/makalah-kinesiologi/
http://penjasorkesfortomorrow.blogspot.com/2012/10/apakah-kinesiologi.html
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/27419/4/Chapter%20II.pdf
https://adholmattara.wordpress.com/2010/12/19/sejarah-kinesiologi/
http://maistrofisika.blogspot.com/2011/11/kinesiologi.html
http://www.bimbie.com/kinesiologi-olah-raga.htm
http://abidin-andibaharuddin.blogspot.com/2012/07/sistem-pengembangan-pendidikan-jasmani.html
http://eprints.undip.ac.id/152/1/Sigit_Moerjono.pdf
https://onopirododo.wordpress.com/2009/11/26/wilayah-kajian-ilmu-keolahragaan/
http://coacheducators.blogspot.com/2013/01/sejarah-ilmu-keolahragaan-di-indonesia.html
http://blog.uny.ac.id/yuyunariwibowo/2010/08/30/pengertian-physical-education/
http://eprints.uny.ac.id/5024/1/DIMENSI_PEMBELAJARAN_KETERAMPILAN_GERAK.pdf
http://www.researchgate.net/publication/215545403_Dasar-Dasar_Filosofis_Ilmu_Keolahragaan_%28Philosophical_Bases_of_Sport_Science%29
Tidak ada komentar:
Posting Komentar