Senin, 25 Mei 2015

PHYSICAL ACTIVITY DAN KINESIOLOGI


PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Beberapa istilah yang sering digunakan pada studi tentang gerak manusia (human movement). Istilah tersebut adalah ilmu gerak, kinesiologi, performance manusia, dan pendidikan jasmani. Istilah-istilah ini sering terdengar apabila diperbincangkan hal hal yang mencakup konteks gerak.
Kinesiologi adalah ilmu yang mempelajari keadaan fisik dan mental manusia. Dari kinesiologi kita tahu bahwa ketika kita berbohong, atau menghadapi kebohongan, bahkan ketika kita berada dalam suatu lingkungan di mana kebohongan sedang terjadi atau di mana kebohongan dibenarkan, otot-otot kita melemah. Khususnya otot-otot lengan dapat dideteksi secara mudah dengan cara tertentu. Otot-otot yang melemah ini kemudian membuat seluruh badan kita melemah, jiwa kita juga ikut melemah karena ia tidak dapat berfungsi, sebagaimana semestinya; bahkan mengekspresikan diri pun tidak Kinesiologi berasal dari kata “kinein”  yang berarti “bergerak” dan “logos”  yang berarti “membicarakan”. Dasar pengkajian atau pembicaraan yang dipakai adalah bahwa tubuh manusia dipandang sebagai mesin yang melakukan suatu pekerjaan dalam sehari-hari. Karenanya pengetahuan tentang mekanika harus dimengerti betul-betul.
Secara garis besar kinesiologi terapan dapat disusun sebagai berikut :
  1. Terapan pada sikap tubuh
  2. Terapan pada gerakan dan penampilan gerak
  3. Terapan pada kesegaran jasmani
  4. Terapan pada penanggulangn cedera (Moerjono. Ilmu Gerak Terapan. 16 September 1978).
  5. Terapan pada keterampilan gerak
  6. Terapan pada penanggulangn cedera (Moerjono. Ilmu Gerak Terapan. 16 September 1978).

Kinetik adalah ilmu gerak (kinetics) Kinesiologia (kinesiology =  the anatomy of movement) adalah ilmu yang mempelajari gerakan secara ilmiah (the scientific study of movement). Kinesiologia generalis adalah bagian dari kinesiologia yang mempelajari gerak pada umumnya. Dalam melakukan gerakan, maka  acuan yang digunakan adalah sikap anatomik (position anatomica – anatomical position) yaitu suatu sikap atau posisi ketika seseorang :
1.      Berdiri tegak, kedua lengan di sisi tubuh dengan telapak tangan menghadap ke depan;
2.      Kaki berdampingan dengan ibu jari menunjuk ke depan; dan
3.      pandangan lurus ke depan melalui bidang khayalan.
Berdasarkan sikap anatomik di atas (acuan) ini dapatlah dinyatakan bahwa kinesiology generalis mengenai gerakan-gerakan pada persendian secara umum, seperti (a) gerakan yang paling sederhana berupa gerak menggelincir/menggeser (gliding movement), (b) gerakan yang memperkecil atau memperbesar sudut yang terbentuk di antara tulang/bagian tubuh yang bergerak (angular movement), (c) gerakan rangka/bagian tubuh mengelilingi suatu bentuk kerucut khayalan, puncak kerucut terdapat di tengah-tengah sendi sedangkan alas kerucut dibentuk oleh ujung distal rangka/ bagian tubuh yang digerakkan (circumduction), dan (d) gerakan rangka/bagian tubuh mengelilingi sumbu longitudinal, baik sumbu longitudinal rangka/bagian tubuh yang digerakkan maupun sumbu longitudinal yang berimpit atau sejajar dengannya/rotation (Napitupulu. Jurnal Pendidikan Penabur – No.09/Tahun ke-6/Desember 2007).

B.       Rumusan Masalah
1.    Apa hakikat dari Physical Activity?
2.    Apa hakikat dari Kinesiologi?

PEMBAHASAN

A.      Hakikat Physical Activity
Physical Activity (aktivitas fisik) adalah setiap gerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot rangka yang memerlukan pengeluaran energi. Aktivitas fisik yang tidak ada (kurangnya aktivitas fisik) merupakan faktor risiko independen untuk penyakit kronis, dan secara keseluruhan diperkirakan menyebabkan kematian secara global (WHO, 2010; Physical Activity. In Guide to Community Preventive Services Web site, 2008).

1.        Manfaat Aktivitas Fisik terhadap Kesehatan
Aktivitas fisik secara teratur memiliki efek yang menguntungkan terhadap kesehatan yaitu : 
a)    Terhindar dari penyakit jantung, stroke, osteoporosis, kanker, tekanan darah tinggi, kencing manis, dan lain-lain.
b)   Berat badan terkendali
c)    Otot lebih lentur dan tulang lebih kuat
d)   Bentuk tubuh menjadi ideal dan proporsional
e)    Lebih percaya diri
f)    Lebih bertenaga dan bugar

2.        Tipe Aktifitas fisik
Ada 3 tipe/macam/sifat aktivitas fisik yang dapat kita lakukan untuk mempertahankan kesehatan tubuh yaitu :
a)    Ketahanan (endurance)
Aktivitas fisik yang bersifat untuk  ketahanan, dapat membantu jantung, paru-paru, otot, dan sistem sirkulasi darah tetap sehat dan membuat kita lebih bertenaga. Untuk mendapatkan ketahanan maka aktivitas fisik yang dilakukan selama 30 menit (4-7 hari per minggu).
Contoh beberapa kegiatan yang dapat dipilih seperti:
-          Berjalan kaki, misalnya turunlah dari bus lebih awal menuju tempat kerja kira-kira menghabiskan 20 menit berjalan kaki dan saat pulang berhenti di halte yang menghabiskan 10 menit berjalan kaki menuju rumah
-          Lari ringan
-          Berenang
-          Senam
-          Bermain tenis
-          Berkebun dan kerja di taman.
b)   Kelenturan (flexibility)
Aktivitas fisik yang bersifat untuk kelenturan dapat membantu pergerakan lebih mudah, mempertahankan otot tubuh tetap lemas (lentur) dan sendi berfungsi dengan baik. Untuk mendapatkan kelenturan maka aktivitas fisik yang dilakukan selama 30 menit (4-7 hari per minggu).
Contoh beberapa kegiatan yang dapat dipilih seperti:
-          Peregangan, mulai dengan perlahan-lahan tanpa kekuatan atau sentakan, lakukan secara teratur  untuk 10-30 detik, bisa mulai dari tangan dan kaki
-          Senam taichi, yoga
-          Mencuci pakaian, mobil
-          Mengepel lantai.
c)    Kekuatan (strength)
Aktifitas fisik yang bersifat untuk kekuatan dapat membantu  kerja otot tubuh dalam menahan sesuatu beban yang diterima, tulang tetap kuat, dan mempertahankan bentuk tubuh serta  membantu meningkatkan pencegahan terhadap penyakit seperti osteoporosis. Untuk mendapatkan kelenturan maka aktivitas fisik yang dilakukan selama 30 menit (2-4 hari per minggu).
Contoh beberapa kegiatan yang dapat dipilih eperti:
-          Push-up, pelajari teknik yang benar untuk mencegah otot dan sendi dari kecelakaan
-          Naik turun tangga
-          Angkat berat/beban
-          Membawa belanjaan
-          Mengikuti kelas senam terstruktur dan terukur (fitness) (Pusat Promosi Kesehatan Departemen Kesehatan RI 2006).





B.       Hakikat Kinesiologi
Ada berbagai macam definisi atau pengertian tentang kinesiologi. Terdapat beberapa definisi yang diambil oleh berbagai sumber, antara lain adalah sebagai berikut : Kinesiologi, berasal dari kata Yunani kinesis (gerakan) dan kinein (untuk pindah), juga dikenal sebagai kinetika manusia, adalah ilmu tentang gerakan manusia. Ini adalah disiplin yang memfokuskan pada Aktivitas Fisik. Kinesiologi berasal dari kata kines dan logos, kines adalah gerak sedangkan logos berati ilmu, jadi kinesiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang gerak, khususnya gerak pada manusia.
Kinesiologi adalah ilmu yang mempelajari gerak atau the science human movement yang diaplikasikan dan menjelaskan tentang gerak tubuh manusia kemudian ilmu ini dapat diaplikasikan terhadap prinsip-prinsip mekanik dalam gerak manusia yang disebut biomekanika atau biomekanik kinesiology sedangkan aplikasi anatomi dalam gerak manusia disebut anatomi kinesiologi. Sehingga secara sederhana kinesiologi adalah mekanika pergerakan manusia (mechanics of human movement).
Dasar pengkajian atau pembicaraan yang dipakai adalah bahwa tubuh manusia dipandang sebagai mesin yang melakukan suatu pekerjaan dalam sehari-hari. Karenanya pengetahuan tentang mekanika harus dimengerti betul-betul. Kinesiologi bekerja di penelitian, industri kebugaran, secara klinis , dan di lingkungan industri. Karenanya tepatlah bila kinesiologi dinyatakan sebagai ilmu paduan dari berbagai cabang ilmu yaitu Ilmu Urai, Ilmu Faal, Biokimia dan Mekanik.
Bertolak dari pengetahuan Ilmu Urai. khususnya tentang sistem alat gerak, maka penerapan dasar mekanik tercermin pada bagaimana sikap tubuh, cara jalan seseorang, cara penggunaan alat-alat rumah- tangga maupun alat-alat olah raga dan sebagainya. Walaupun pada waktu ini psycholoog. psychiater dan psyehoanalis sangat berkenan pada penelitian aspek Psychosomatik dari kinesiologi dan memperbincangkan tentang “mengapa” manusia bergerak, tidak jarang pula adanya perenung yang merenungkan bahwa memang tepatlah apa yang dikatakan oleh nenek-moyang kita yaitu bahwa manusia dapat bergerak secara teratur, berjalan secara anggun dan mempunyai kemampuan penyesuaian dengan lingkungan; semua ini adalah karunia Tuhan Pencipta Alam Tetapi janganlah salah sangka, sebab kinesiologi bukanlah suatu studi untuk menikmati karunia Tuhan. Kinesiologi terapan banyak dijumpai pada bidang kedokteran dan bidang olahraga serta pelaksanaan penyembuhan fisik dan rehabilitas serta bidang seni tari.


1.        Sejarah Kinesiologi
Perkembangan kinesiologi terjadi hampir bersamaan dengan perkembangan ilmu induknya yaitu Anatomi. Pada tahun 384 – 322 SM dimulailah penulisan tentang bekerjanya otot-otot yang di arahkan pada analisa geometrik. Orang yang pertama-tama melakukan penyelidikan adalah Aristoteles yang sekarang dikenal sebagai bapak kinesiologi. Observasi yang dilakukannya menghasilkan ingatan, bahwa hewan yang bergerak mengadakan perubahan letak dengan jalan menekan kakinya pada apa yang diinjak, Ia pula yang pertama-tama menganalisa dan menulis tentang adanya proses yang begitu komplek pada cara jalan manusia, dimana ternyata terdiri atas gerakan berputar (rotasi) yang selanjutnya dirobah menjadi gerak lurus (translatasi). Peranan gaya-berat (gravitasi), hukum gerakan dan pengertian tentang pengumpil mulai dibicarakan. Dari urian diatas dapat dilihat adanya kenyataan, bahwa seorang pelompat jauh akan dapat melompat lebih jauh lagi dengan membawa beban pada kedua tangannya bila dibandingkan dengan yang tanpa membawa beban. Seorang pelari akan lebih cepat larinya, bila ia mengayunkan lengannya, karena dengan demikian terjadi extensi lengan yang sakan-akan dapat menjadi sandaran terhadap tangan dan pergelangannya.
Pada tahun itu pula Archimedes memberikan andilnya dengan prinsip hydrostatikanya. yang sampai sekarang masih dipakai dalam kinesiologi renang dan perjalanan ruang angkasa.
Setelah itu Galen dalam karangannya “De Motu Musculorum” mengajukan pengertian tentang adanya otot-otot agonis dan antagonis dan mulai pula dipakai kata-kata “diarthrosis” dan “sinarthrosis” pada sistem persendian.
Sesudah Galen perkembangan kinesiologi menjadi statis dan baru pada tahun 1452-1519 Leonardo da Vinci membangkitkan kembali dengan memberikan perhatiannya pada struktur tubuh manusia yang dihubungkan dengan penampilan atau peragaannya, dan hubungan antara pusat gravitasi dan keseimbangan tubuh serta pusat tumpuannya.
Alfonco Borelli pada tahun 1608 – 1679 mulai menggunakan formula matematika untuk memecahkan problema gerakan otot dan mulai mengadakan pembedaan antara berbagai macam kontraksi otot serta mengemukakan dasar-dasar innervasi resiprok. Karena pengkajiannya yang mendalam tentang problema gerakan tadi, maka feindler (ahli kinesiologi masa kini) menyebutnya sebagai “Bapak Kinesiologi modern dalam sistem lokomotor.” Konsep Borelli ini dikembangkan oleh Webers pada tahun 1836. Uraiannya didasarkan atas adanya observasi yang menyatakan bahwa sikap tegak tubuh disebabkan oleh adanya tegangan pada ligament dan hanya sedikit saja atau tidak adanya kerja otot sedangkan pada berjalan atau lari maka gerakan ke depan dari tungkai merupakan ayunan bandul yang disebabkan oleh adanya gravitasi. Keadaan ini menyebabkan gerakan jatuh ke depan dari badan yang selanjutnya disalurkan ke tungkai. Webers pula yang menyatakan, bahwa panjang otot akan berkurang pada waktu kontraksi dan tulang berperan sebagai pengumpil.
Isaac Newton pada tahun 1642 – 1727 memberikan dasar-dasar dinamika modern yang ternyata sangat penting artinya bagi perkembangan Kinesiologi. Dasar ini tertuang dalam “Hukum Newton”.
Mulai tahun 1861 – 1917 dengan adanya perkembangan teknik fotografi Otto Fischer mengadakan studi eksperimental tentang cara manusia berjalan.
Rudolf A.Fick sekitar tahun itu pula meneliti tentang sikap (postur) manusia dan mekanik gerakan sendi.
Kari Culmann 1821 – 1S81 seorang insinyur Jerman mengadakan analisa yang menghasilkan teori trakyektori untuk arsitektur tulang. Sejalan dengan kemajuan teknologi, maka sejak tahun 1912 telah dipakai alat-alat elektromyograf. cinematograf dan sekarang dengan elektronik stroboskop yang dapat mengambil gambaran dengan kecepatan l juta sekon yang merupakan alat pada dewasa ini yang sewajarnya dipakai dalam pendidikan olahraga. Selain pemakaian alat-alat baru tersebut diatas ternyata terjadi pula perubahan dalam pemikiran tentang bergeraknya manusia. Teori stimulus-respons yang dianut sebelumnya telah ditinggalkan dan diganti dengan mekanisme servo maupun mekanisme umpan-balik (feedback).
Pada beberapa tahun sesudah perang dunia ke II berakhir, kecuali terlihat adanya perkembangan teknologi mulai terjadi pula adanya pendekatan-pendekatan secara multidisipliner antara ahli-ahli faal. Anatomi, psikolog, teknik dan lain-lainnya, yang pada akhirnya berhasil membuahkan suatu ilmu baru yang sebetulnya merupakan saudara kembar dari Kinesiologi.

2.        Wilayah Kajian Ilmu Keolahragaan
Wilayah kajian ilmu keolahragaan mencakup spektrum aktifitas jasmani yang cukup luas, meliputi; bermain (play), berolahraga (sport), pendidikan jasmani dan kesehatan (physical education and leissure), dan tari (dance).



a)        Bermain
Bermain merupakan dorongan naluri, fitrah manusia, dan pada anak merupakan keniscayaan sosiologis dan biologis. Ciri lain yang amat mendasar yakni kegiatan itu dilakukan secara suka rela, tanpa paksaan, dalam waktu luang. Didalamnya juga terkandung nilai pendidikan sehingga perlu dimanfaatkan sebagai upaya menuju pendewasaan melalui pemberian rangsangan yang bersifat menyeluruh, meliputi aspek fisik, mental, sosial, dan moral yang berguna pada pencapaian pertumbuhan dan perkembangan secara normal dan wajar.  Dari tujuannya inilah yang membedakan aktivitas antara bermain dan bekerja.

b)        Olahraga
Istilah olahraga yang digunakan disini merupakan sebuah istilah generik, sehingga pengertian tidak terbatas pada pengertian sempit olahraga prestasi-kompetitif-elit untuk segelintir individu berkemampuan super yang pelaksanaannya dikelola secara formal seperti biasa dijumpai dalam cabang-cabang olahraga resmi, tetapi juga jenis-jenis aktivitas jasmani lainnya yang bersifat informal dan kegiatan dan tujuannya dapat diidentifikasi sebagai berikut:
  1. Olahraga pendidikan adalah proses pembinaan menekankan penguasaan keterampilan dan ketangkasan berolahraga   nilai-nilai kependidikan melalui pembekalan pengalaman yang lengkap sehingga yang terjadi adalah proses sosialisasi melalui dan ke dalam olahraga;
  2. Olahraga kesehatan adalah jenis kegiatan olahraga yang lebih menitik beratkan pada upaya mencapai tujuan kesehatan dan fittnes yang tercakup dalam konsep well-being melalui kegiatan olahraga;
  3. Olahraga rekreatif adalah jenis kegiatan olahraga yang menekankan pencapaian tujuan yang bersifat rekreatif atau manfaat dari aspek jasmaniah dan sosial-psikologis;
  4. Olahraga rehabilitatif adalah jenis kegiatan olahraga, atau latihan jasmani yang menekankan tujuan bersifat terapi atau aspek psikis dan perilaku;
  5. Olahraga kompetitif adalah jenis kegiatan olahraga yang menitik beratkan peragaan performa dan pencapaian prestasi maksimal yang lazimnya dikelola  oleh organisasi olahraga formal, baik nasional  maupun internasional.
Karena karakteristik olahraga semakin kompleks, selain mengandung muatan bio psiko-sosio-kultural-anthropologis juga muatan teknologi (techno-sport), maka amat sukar untuk menegaskan sebuah batasan, namun demikian dapat diidentifikasi ciri yang bersifat umum yaitu sebagai berikut:
  • Olahraga merupakan subsistem dari bermain: pelaksanaan secara suka rela tanpa paksaan;
  • Olahraga berorientasi pada dimensi fisikal: kegiatan itu merupakan peragaan keterampilan fisik;
  • Olahraga merupakan kegiatan riil, bukan ilusi atau imajinasi;
  • Olahraga, terutama olahraga kompetitif menekankan aspek performa dan prestasi sehingga didalamnya terlibat unsur perjuangan, kesungguhan, dan faktor surprise, sebagai lawan dari faktor untung-untungan sehingga performa itu dicapai melalui usaha pribadi;
  • Olahraga berlangsung dalam suasana hubungan sosial dan bersifat kemanusiaan, bukan membangkitkan naluri rendah, dan bahkan justru membangun solidaritas;
  • Olahraga harus bermuara pada upaya untuk meningkatkan dan memelihara kesehatan total atau wellness.

c)        Pendidikan jasmani
Pendidikan jasmani adalah proses sosialisasi melalui aktivitas jasmani, bermain dan/atau olahraga yang bersifat selektif untuk mencapai tujuan pendidikan pada umumnya. Meskipun orientasi pembinaan tertuju pada aspek jasmani, namun demikian seluruh skenario adegan pergaulan yang bersifat mendidik juga tertuju pada aspek pengembangan kognitif dan afektif sehingga pendidikan jasmani merupakan intervensi sistemik yang bersifat total, mencakup pengembagan aspek fisik, mental, emosional, sosial, dan moral-spritual. Nuansa-nuasa yang bersifat mendidik itu terjadi pada anak-anak melalui pendekatan pedagogi dan juga pada orang dewasa melalui pendekatan andragogi sehingga proses pendidikan dan sekaligus pembentukan itu berlangsung melalui pendekatan agogik.

d)       Pendidikan kesehatan
Pendidikan kesehatan adalah proses pembinaan pola atau gaya hidup sehat sebagai keterpaduan pengetahuan, nilai sikap dan perilaku nyata (action). Tujuan yang ingin dicapai adalah kesehatan total, bukan dalam pengertian bebas dari cacat, tetapi sehat fisik, mental dan sosial, seperti tercakup dalam konsep wellness. Antara sakit dan sehat bukan sebagai sebuah dikhotomi, tetapi sehat bergerak dalam garis kontinum sehingga fungsi dari pendidikan kesehatan adalah untuk meningkatkan dan memelihara derajat kesehatan seseorang.
e)        Rekreasi
Rekreasi adalah satu bentuk kegiatan suka rela dalam waktu luang, bukan aktivitas survival, yang diarahkan terutama dalam bentuk rekreasi aktif berupa aktivitas jasmani atau kegiatan berolahraga. Pelaksanaannya harus sesuai dengan norma dan etika masyarakat. Tujuan yang ingin dicapai mencakup aspek pemulihan kelelahan, relaksasi, atau penanganan stres untuk menggairahkan hidup agar lebih produktif melalui relativitas energi dalam suasana kehidupan yang riang, tidak tertekan dan merasa bahagia, disamping memperoleh pengakuan dari lingkungan sekitar melalui jalinan hubungan sosial.
Batas-batas suatu kegiatan yang bernuansa bermain, bekerja dan rekreasi sering merembes. Dalam suasana bekerja bisa tembus nuansa bermain yang membangkitkan kegairahan, meskipun tidak akan dikatakan dalam situasi bermain dan berekreasi masuk suasana bekerja.

f)         Tari (dance)
Tari menunjukkan fenomena peragaan keterampilan ketangkasan, sehingga dari pengungkapan keterampilan gerak ia masuk ke tapal batas kegiatan olahraga. Namun aktivitas jasmani tersebut lebih bernuansa persyaratan seni atau faktor estetika, meskipun tidak dapat dibantah bahwa olahraga banyak sekali dijumpai unsur-unsur seni dan keindahan.

3.        Model Orientasi Kurikulum dalam Pendidikan Jasmani
Persoalan konflik antar makna pendidikan jasmani dan pendidikan olahraga perlu diselesaikan. Keduanya tidak perlu dipertentangkan. Yang berbeda adalah dalam hal pemahaman. Keduanya sebenarnya mengandung fungsi mendidik. Penyelenggaraan pendidikan jasmani bisa berbeda karena berbeda dalam rancangan kurikulumnya. Di negara maju, pendidikan jasmani dilaksanakan dengan berorientasi pada model-model kurikulum yang berlaku. Model kurikulum inilah yang menentukan perbedaan tekanan terhadap program yang dilaksanakan, apakah berorientasi pada peningkatan kesegaran jasmani atau keterampilan gerak, misalnya. model kurikulum dalam pendidikan jasmani adalah :
-          Pendidikan gerak (movement education)
-          Pendidikan olahraga (sport education)
-          Pendidikan petualangan (adventure education)
-          Pendidikan perkembangan (developmental education)
-          Pendidikan kebugaran (fitness education)
-          Pendidikan disiplin keilmuan olahraga (kinesiological studies)
a)        Pendidikan Gerak
Pendidikan gerak (movement education) menekankan pendidikan lewat gerak yang mula-mula dikem- bangkan oleh Rudolph Laban di Inggris. Laban mengembangkan konsep-konsep gerak yang berkaitan dengan ruang dan waktu sebagai bahan untuk pengembangan gerak-gerak tari. Aliran Laban akhirnya dibawa ke Amerika Serikat dan diadopsi sebagai program pendidikan jasmani.
Lewat pendidikan gerak, keterampilan gerak anak dikembangkan melalui pelaksanaan yang bervariasi, dikaitkan dengan ruang, waktu, arah serta tingkat ketinggian di mana gerakan dilakukan. Di sini tidak ada istilah benar atau salah. Anak-anak akan lebih menguasai pergerakan tubuhnya disertai pengertiannya. Dengan demikian diharapkan siswa menguasai tubuhnya dan mampu mengembangkan kapasitas fisik dan mentalnya untuk belajar, baik keterampilan fisik maupun keterampilan akademis. Model ini cocok dikembangkan di SD.

b)        Pendidikan Olahraga
Ada kesalahpahaman bahwa pendidikan jasmani sama dengan pendidikan olahraga. Keduanya berbeda, pendidikan jasmani lebih menekankan pada pengembangan keterampilan motorik dasar dan memperkaya perbendaharaan gerak. Pendidikan olahraga menekankan pada pembinaan keterampilan berolahraga dan menghayati nilai-nilai yang diperoleh dari kegiatan berlatih dan bertanding. Semua anak dibekali pengalaman nyata untuk berperan dalam pembinaan olahraga, seperti wasit, atlet, atau pelatih. Dalam arti itulah pendidikan olahraga di Amerika Serikat, misalnya, menyandang misi kependidikan yang lengkap.
Jika program penjas di Indonesia masih berwarna pendidikan olahraga seperti sekarang ini, maka kecenderungan ini hanyalah masalah orientasi model kurikulum yang dianut seperti maksud di atas. Sayangnya kecenderungan di Indonesia, penggunaan model ini tidak menyebabkan anak dibekali dengan pengalaman berolahraga yang sebenarnya, karena programnya amat terbatas.

c)        Pendidikan Perkembangan
Model pendidikan perkembangan memfokuskan tujuan pendidikannya pada aktualisasi diri, yang menekankan pertumbuhan pribadi dari setiap anak. Kurikulumnya dikembangkan berdasarkan tingkat perkembangan anak, yang berusaha menyeimbangkan penekanan pada ranah kognitif, afektif dan psikomotor.
d)       Pendidikan Petualangan
Pendidikan petualangan (Adventure education) dikembangkan atas dasar kebutuhan untuk mengatasi tekanan-tekanan hidup yang semakin berat. Programnya berisi kegiatan yang menantang di alam bebas dan disesuaikan dengan kebutuhan para remaja untuk bertualang mengatasi resiko dan perjuangan melawan tantangan alam. Mendaki gunung, menyusuri sungai, berkemah, memanjat tebing, dan variasi lain di alam terbuka merupakan contoh program pendidikan petualangan.

e)        Pendidikan Kebugaran
Sekolah memang bisa menekankan orientasinya pada pengembangan kebugaran murid-muridnya. Program pendidikan jasmani seperti itu mengarahkan anak supaya aktif berlatih di sekolah dan di luar sekolah untuk hidup sehat dan memiliki kemampuan fisik yang baik. Pelaksanaan senam kebugaran jasmani (SKJ) merupakan contoh dari program pendidikan kebugaran. Persoalannya adalah mungkin frekuensi dan isi latihannya perlu ditingkatkan, karena hanya bersandar pada SKJ yang ada sekarang ini, unsur kekuatan, kelentukan, serta power anak tidak akan berkembang maksimal.

f)         Kinesiological Studies
Model studi kinesiologi pada hakikatnya hampir sama dengan model pendidikan gerak dalam orientasi nilainya, tetapi menggunakan kegiatan gerak untuk mempelajari dasar-dasar disiplin gerak manusia (misalnya fisiologi latihan, biomekanika, dan kinesiologi). Karena itu, model ini pun disebut juga sebagai pendidikan disiplin keilmuan olahraga.
Penekanan pembelajaran model ini adalah pada pengembangan keterampilan memecahkan masalah, khususnya dengan menggunakan kombinasi antara pembelajaran konsep dan prakteknya di lapangan. Tujuan utamanya adalah menumbuhkan dan mengembangkan pemahaman kognitif tentang bagaimana dan mengapa suatu keterampilan gerak berlangsung demikian. Model ini didasari dua pendekatan yang khas dalam studi kinesiologi, yaitu pendekatan pertama, isi atau materi diatur dalam sebuah unit-unit kegiatan, dan konsep-konsep disiplin utama diintegrasikan dengan pengajaran keterampilan; pendekatan kedua, unit-unit kegiatan diatur di sekitar konsep-konsep khusus yang menjadi prioritas di atas pengajaran keterampilan.
Pemakaian model ini umumnya dipilih oleh guru-guru penjas di tingkat sekolah menengah. Meskipun banyak sekolah menengah telah memasukkan satu atau dua unit konsep dalam kurikulumnya, khusus dipadukan dengan sehat-bugar-jasmani, sedikit sekali sekolah yang hanya memakai model kinesiologi secara tunggal. Tetapi tidak ada salahnya model inipun sudah mulai diperkenalkan di SD dengan persoalan prinsip gerak yang disederhanakan.

4.        Arah Pengembangan Pembelajaran Pendidikan Jasmani Bagi Anak Luar Biasa
Pendidikan jasmani untuk siswa sekolah luar biasa dan siswa berkelainan telah menjadi prioritas dalam program pendidikan nasional kita. Ini menunjukkan bahwa pemerintah telah menaruh perhatian yang lebih besar kepada para penyandang kelainan, bukan saja yang berada di lingkungan sekolah, tetapi yang berada di lingkungan pendidikan non-formal lainnya.
Pada kenyataannya, para siswa penyandang kelainan memiliki kebutuhan yang lebih besar akan gerak. Seperti diakui oleh para ahli, justru pendidikan jasmani harus merupakan program utama dari program pendidikan luar biasa secara keseluruhan, karena menjadi dasar atau fimdasi bagi peningkatan fungsi tubuh yang sangat diperlukan oleh anak-anak berkebutuhan khusus.
Guru pendidikan jasmani perlu mengakui bahwa aspek psikologis dari situasi kelas sama dan bahkan lebih penting daripada tujuan-tujuan substantif pendidikan jasmani. Di samping itu, untuk mampu menjaga motivasi anak tetap tinggi, guru perlu memiliki cara-cara yang kreatif dalam pengajaran. Guru pendidikan jasmani harus menanamkan pada dirinya sendiri tujuan dan keinginan untuk membantu siswa dalam mengembangkan citra diri positif, mengembangkan hubungan interpersonal yang efektif, memahami dan menghargai kelebihan dan keterbatasan fisiknya, mengoreksi kondisi fisik khusus yang masih mungkin diperbaiki, mengembangkan suatu kesadaran keselamatan, dan menjadikan anak-anaknya bugar secara fisik sesuai dengan kapasitasnya.

5.        Landasan Falsafah Pendidikan Kebugaran Jasmani
Tujuan jangka panjang pendidikan jasmani adalah sebagi berikut:
a)    Kegiatan tersebut dimaksudkan untuk menghasilkan insan yang berpendidikan dan berpandangan bahwa aktivitas jasmani ini bernilai, bermanfaat, dan dapat dilakukan di sepanjang hayat.
b)   Melalui proses pendidikan tersebut juga dihasilkan insan yang dapat memahami bagaiman membuat rencana kegiatan dan melasanakannya, baik untuk keperluan sendiri secara perorangan maupun keperluan kelompok.
c)    Untuk menghasilkan seseorang yang terampil menciptakan peluang dan memanfaatkannya dalam rangka pembinaan kebugaran jasmani. Kemampuan mengatasi stress dan hambatan juga menjadi tujuan akhir.
Bertitik tolak dari pandangan falsafah tersebut, sebagai guru pendidikan jasmani perlu memahami kaidah pengembangan program pendidikan jasmani yang seimbang. Adapun kaidah-kaidah  yang dimaksud  adalah  sebagai berikut :
a)    Penyediaan waktu yang cukup bagi anak untuk melalukan aktivitas jasmani.
b)   Penyediaan kesempatan bagi setiap anak untuk memenuhi kebutuhan secara perorangan yang memang berbeda-beda.
c)    Penyediaan aneka kegiatan dan memberikan bimbingan sesuai dengan pilihan siswa.
d)   Pemberian informasi umpan balik kepada anak, baik mengenai proses maupun hasilnya.
e)    Pembekalan siswa dengan keterampilan dasar termasuk pengayaan keterampilan dalam rangka meningkatkan kebugaran jasmani.
f)    Menjadikan diri sebagai guru pendidikan jasmani yang pantas sebagai panutan bagi siswa.
g)   Pemberian perhatian penuh bagi perkembangan anak secara menyeluruh, termasuk sikap dan perlakuannya terhadap aktivitas jasmani yang dilaksanakan secara teratur dan berkesinambungan.
h)   Penggunaan strategi yang tepat untuk membentuk pola hidup sehat.
i)     Menggunakan gaya hidup aktif dan pelaksanaan aktivitas jasmani di luar pendidikan jasmani disekolah.
j)     Menghindari ucapan yang menyatakan bahwa aktivitas jasmani itu hanyalah membuang-buang waktu, dan sia-sia belaka.

6.    Strategi Pengembangan
Penyiapan program yang dianggap bermutu, tidak akan berjalan dengan sendirinya. Karena itu dibutuhkan strategi pengembangan yang mencakup beberapa aspek sebagai berikut :
a)    Pengembangan program yang menekankan pada penyediaan pengalaman jasmani yang disenangi di sepanjang hayat. Karena itu, misalnya, latihan aerobic, stretching (perengangan otot), jalan kaki, tenis, dan berenang.
b)   Membantu siswa untuk menguasai keterampilan gerak dan kembangkan penilaian diri positif bahwa ia dapat menguasai keterampilan itu. Sebagai contoh, bagaimana melakukan pemanasan yang benar sebelum berlatih, bagaimana melakukan stretching yang aman dan efektif; atau bagaimana memainkan suatu cabang olahraga dengan memuaskan dan mendatangkan kesenangan.
c)    Memberikan kesempatan yang meluas dan merata sehingga semua anak dengan kemampuan yang berbeda-beda dapat ikut serta; programnya jangan sampai menjadi monopoli anak yang berbakat.
d)   Memberi tekanan pada program yang akan mendatangkan maslahat, bukan hanya untuk kepentingan jasmani, seperti kebugaran, tetapi juga untuk perkembangan sosial, dan keterampilan yang diperlukan untuk mempertahankan gaya hidup aktif sepanjang hayat, keterampilan itu antara lain, bagaimana mengukur kebugaran diri secara sederhana, megatasi masalah, dan memotivasi diri.



PENUTUP

A.      Kesimpulan
Physical Activity (aktivitas fisik) adalah setiap gerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot rangka yang memerlukan pengeluaran energi. Aktivitas fisik yang tidak ada (kurangnya aktivitas fisik) merupakan faktor risiko independen untuk penyakit kronis, dan secara keseluruhan diperkirakan menyebabkan kematian secara global.
Kinesiologi berasal dari kata kines dan logos, kines adalah gerak sedangkan logos berati ilmu, jadi kinesiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang gerak, khususnya gerak pada manusia.
Wilayah kajian ilmu keolahragaan mencakup spektrum aktifitas jasmani yang cukup luas, meliputi; bermain (play), berolahraga (sport), pendidikan jasmani dan kesehatan (physical education and leissure), dan tari (dance).
Model kurikulum dalam pendidikan jasmani adalah :
-          Pendidikan gerak (movement education)
-          Pendidikan olahraga (sport education)
-          Pendidikan petualangan (adventure education)
-          Pendidikan perkembangan (developmental education)
-          Pendidikan kebugaran (fitness education)
-          Pendidikan disiplin keilmuan olahraga (kinesiological studies)

B.     Saran
Diharapkan kepada semua profesi yang berhubungan dengan kegiatan fisik (olahraga) sebaiknya memahami ilmu kinesiologi dikarenakan semua jajaran dapat mengetahui seluruh kondisi kesehatan organ tubuh, atau sistem organ dan metabolisme dalam tubuh, dapat mengetahui kondisi imunitas/kekebalan tubuh dan seluruh gangguan alergi yang dialami, dapat mengetahui keseimbangan vitamin dan mineral dalam tubuh, dapat mengetahui keseimbangan hormonal tubuh, dapat mengetahui gangguan mental dan emosional yang mengganggu kesehatan tubuh, serta dapat memabntu ketepatan mendiagnosa dan terapi kasus kesakitan serta respon tubuh (cocok tidaknya terhadap suatu perlakuan, zat, maupun obat.



DAFTAR PUSTAKA

http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/BAHAN%20AJAR%20KINESIOLOGI.pdf

http://pendidikanjasmani13.blogspot.com/2012/02/kinesiology-olahraga.html

https://tigisport.wordpress.com/tag/makalah-kinesiologi/

http://penjasorkesfortomorrow.blogspot.com/2012/10/apakah-kinesiologi.html

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/27419/4/Chapter%20II.pdf

https://adholmattara.wordpress.com/2010/12/19/sejarah-kinesiologi/

http://maistrofisika.blogspot.com/2011/11/kinesiologi.html

http://www.bimbie.com/kinesiologi-olah-raga.htm

http://abidin-andibaharuddin.blogspot.com/2012/07/sistem-pengembangan-pendidikan-jasmani.html

http://eprints.undip.ac.id/152/1/Sigit_Moerjono.pdf

https://onopirododo.wordpress.com/2009/11/26/wilayah-kajian-ilmu-keolahragaan/

http://coacheducators.blogspot.com/2013/01/sejarah-ilmu-keolahragaan-di-indonesia.html

http://blog.uny.ac.id/yuyunariwibowo/2010/08/30/pengertian-physical-education/


http://eprints.uny.ac.id/5024/1/DIMENSI_PEMBELAJARAN_KETERAMPILAN_GERAK.pdf

http://www.researchgate.net/publication/215545403_Dasar-Dasar_Filosofis_Ilmu_Keolahragaan_%28Philosophical_Bases_of_Sport_Science%29

Tidak ada komentar:

Posting Komentar